Sabtu, 28 April 2012

12 Program KIA


I.                   ANTENATAL CARE (ANC)

1.      Pengertian Pelayanan Antenatal
Standar pemeriksaan dan pemantauan antenatal adalah standar pelayanan kehamilan yang bertujuan memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan umum dan tumbuh kembang janin, mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, deteksi risiko tinggi (anemi, kurang gizi, hipertensi, penyakit menular seksual), memberikan pendidikan kesehatan serta mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin (Depkes RI).
Antenatal Care adalah perawatan yang ditujukan kepada ibu hamil, yang bukan saja bila ibu sakit dan memerlukan perawatan, tetapi juga pengawasan dan penjagaan wanita hamil agar tidak terjadi kelainan sehingga mendapatkan ibu dan anak yang sehat(Mochtar, 1998).
Pelayanan antenatal ialah untuk mencegah adanya komplikasi obstetri bila mungkin dan memastikan bahwa komplikasi dideteksi sedini mungkin (Saifuddin, dkk., 2000).

2.      Standar Pelayanan Antenatal Care
Ada tujuh standar pelayanan yang harus dilakukan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang dikenal dengan 7 T, yaitu:
1. Timbangan berat badan (BB)
2. Pemberian Tetanus Toksoid (TT)
3. Ukuran tekanan Darah (TD)
4. Ukuran tinggi Fundus Uterus (TFU)
5. Pemberian Fe
6. Tes penyakit menular seksual (PMS)
7. Temu Wicara

3.      Tujuan Antenatal Care
Tujuan Antenatal care adalah pengawasan kehamilan untuk mendapatkan hal sebagai berikut:
·         Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang
·         Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu dan bayi
·         Menegakkan secara dini penyakit yang menyertai kehamilan
·         Menegakkan secara dini komplikasi kehamilan
·         Menyiapkan persalinan menuju wellborn baby dan well health mother.
·         Mempersiapkan memelihara bayi Mempromosikan dan menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi dengan memberikan pendidikan gizi, kebersihan diri dan proses kelahiran.bayi
·         Membantu menyiapkan ibu untuk menysui dengan sukses, menjalankan puerperium normal, dan merawat anak secara fisik, psikologis dan sosial

4.      Prasyarat Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal
§  Bidan mampu memberikan pelayanan antenatal berkualitas, termasuk penggunaan KMS Ibu hamil dan kartu pencatatan hasil pemeriksaan kehamilan (Kartu Ibu).
§  Alat untuk pelayanan antenatal tersedia dalam keadaan baik dan berfungsi, antara lain: stetoskop, tensimeter, meteran kain, timbangan, pengukur lingkar lengan atas, stetoskop janin.
§  Tersedia obat dan bahan lain, misalnya : vaksin TT, tablet besi dan asam folat dan obat antimalaria (pada daerah endemis malaria), alat pengukur Hb sahli
§  Menggunakan KMS ibu hamil / buku KIA, kartu ibu
§  Terdapat sistem rujukan yang berfungsi dengan baik, yaitu ibu hamil risiko tinggi atau mengalami komplikasi dirujuk agar mendapatkan pertolongan yang memadai

5.      Proses pemeriksaan dan pemantauan antenatal
Bidan harus:
a) Bersikap ramah, sopan dan bersahabat pada setiap kunjungan.
b) Pada kunjungan pertama, bidan;
o   Melakukan anamnesis riwayat dan mengisi KMS Ibu hamil/ KIA, kartu ibu secara lengkap
o   Memastikan bahwa kehamilan diharapkan
o   Tentukan hari taksiran persalinan (HTP). Jika hari pertama haid terakhir (HPHT) tidak diketahui, tanyakan kapan pertama kali dirasakan pergerakan janin dan cocokkan dengan hasil pemeriksaan tinggi fundus uteri. Jelaskan bahwa hari taksiran persalinan hanyalah suatu perkiraan.
o   Memeriksa kadar Hb
c) Pada setiap kunjungan, bidan harus:
o   Menilai keadaan umum (fisik) dan psikologis ibu hamil
o   Memeriksa urine untuk tes protein dan glukosa urine atas indikasi. Bila ada kelainan, ibu dirujuk.
o   Mengukur berat badan dan lingkar lengan atas. Jika beratnya tidak bertambah, atau pengukuran lengan menunjukkan kurang gizi, beri penyuluhan tentang gizi dan dirujuk untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut
o   Mengukur tekanan darah dengan posisi ibu hamil duduk atau berbaring, posisi tetap sama pada pemeriksaan pertama maupun berikutnya. Letakkan tensimeter di permukaan yang datar setinggi jantungnya. Gunakan selalu ukuran manset yang sesuai. Ukur tekanan darah. (tekanan darah diatas 140/90 mmHg, atau peningkatan diastole 15 mmHg/ lebih sebelum kehamilan 20 minggu, atau paling sedikit pada pegukuran dua kali berturut-turut
o   pada selisih waktu 1 jam, berarti ada kenaikan nyata dan ibu perlu dirujuk).
o   Periksa Hb pada kunjungan pertama dan pada kehamilan 28 minggu atau lebih sering jika ada tanda-tanda anemia. Pada daerah endemis malaria beri profilaksis dan penyuluhan saat kunjungan pertama.
o   Tanyakan apakah ibu hamil meminum tablet zat besi sesuai dengan ketentuan dan apakah persediaannya cukup. Tablet zat besi berisi 60mg zat besi dan 500mikrogram asam folat paling sedikit diminum satu tablet sehari selama 90 hari berturut-turut. Ingatkan ibu hamil agar tidak meminumnya dengan teh/kopi.
o   Tanyakan dan periksa tanda /gejala Penyakit Menular Seksual (PMS), dan ambil tindakan sesuai dengan ketentuan
o   Tanyakan apakah ibu hamil merasakan perdarahan, nyeri epigastrium, sesak nafas, nyeri perut, demam.
o   Lakukan pemeriksaan fisik ibu hamil secara lengkap. Periksalah payudara, lakukan penyuluhan dan perawatan untuk pemberian ASI eksklusif. Pastikan bahwa kandung kencing ibu kosong sebelum diperiksa
o   Ukur tinggi fundus uteri dalam cm dengan menggunakan meteran kain. (sesudah kehamilan lebih dari 24 minggu tinggi fundus dalam cm diukur dari simfisis pubis sampai ke fundus uteri, sesuai dengan umur kehamilan dalam minggu)
o   Tanyakan apakah janin sering bergerak dan dengarkan denyut jantung janin.Rujuk jika tidak terdengar atau pergerakan janin menurun pada bulan terakhir kehamilan
o   Beri nasihat tentang cara perawatan diri selama kehamilan, tanda bahaya pada kehamilan, perawatan payudara, kurang gizi dan anemia.
o   Dengarkan keluhan yang disampaikan ibu dengan penuh minat dan beri nasihat atau rujuk jika diperlukan. Ingat, semua ibu memerlukan dukungan moril selama kehamilannya.
o   Bicarakan tentang tempat persalinan, persiapan transportasi untuk rujukan jika diperlukan. Beri nasihat mengenai persiapan persalinan
o   Catat semua temuan pada KMS Ibu Hamil/ buku KIA, kartu ibu. Pelajari semua temuan untuk menentukan tindakan selanjutnya, termasuk rujukan.

  
II.                DESA SIAGA/SUAMI SIAGA

F      SUAMI SIAGA
Suami SIAGA adalah kondisi kesiagaan suami dalam upaya memberikan pertolongan dalam merencanakan dan menghadapi kehamilan, persalinan dan nifas terhadap istrinya. Suami siaga dapat mengandung tiga hal, yaitu:
-        Siap, suami hendaknya waspada dan bertindak atau mengantisipasi jika melihat tanda bahaya kehamilan.
-        Antar, suami hendaknya merencanakan angkutan dan menyediakan donor darah jika diperlukan.
-        Jaga, suami hendaknya mendampingi istri selama proses dan selesai persalinan.
Suami Siaga
Dalam konsep suami siaga, seorang suami dengan istri yang sedang hamil diharapkan siap mewaspadai setiap risiko kehamilan yang muncul, menjaga agar istri tidak melakukan hal-hal yang mengganggu kesehatan dan kehamilannya, serta segera mengantar ke rujukan terdekat bila ada tanda-tanda komplikasi kehamilan. Jika peran siaga ini dijalankan, diharapkan keterlambatan yang kerap menjadi penyebab kematian ibu melahirkan tidak terjadi. SIAGA posisi yang berkaitan dengan prilaku positif, yaitu:
-        Siap berarti harus siap/ disiapkan menemani istri
-        Antar berarti harus diangkut/mendapatkan naik
-        Jaga menterjemahkan untuk menjaga (selalu oleh istrimu selama dan setelah penyampaian)
Partisipasi suami yang dapat dilakukan antara lain meliputi:
1.      Membantu mempertahankan dan meningkatkan kesehatan istri yang sedang hamil.
2.      Memberikan perhatian dan kasih sayang kepada istri.
3.      Mengajak dan mengantar istri untuk memeriksakan kehamilan ke fasilitas kesehatan terdekat minimal 4 kali selama kehamilan.
4.      Memenuhi kebutuhan gizi bagi istrinya agar tidak terjadi anamia gizi dan memperoleh istirahat yang cukup.
5.      Mempelajari gejala komplikasi pada kehamilan seperti darah tinggi, kaki bengkak, perdarahan, konsultasi dalam melahirkan, keracunan dalam kehamilan, infeksi dan sebagainya.
6.      Menyiapkan biaya melahirkan dan biaya transportasi.
7.      Melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap sedini mungkin bila terjadi hal-hal yang menyangkut kesehatan kehamilan dan kesehatan janin misal perdarahan dan lain-lain.
8.      Menentukan tempat persalinan (fasilitas kesehatan) sesuai dengan kemampuan dan kondisi daerah masing-masing.

Trimester pertama: masa penuh gejolak emosi
Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester pertama:
1.      Sering mual-mual dan muntah, terutama pada pagi hari , karena mengalami morning sickness
2.      Menjadi cepat lelah dan mudah mengantuk
3.      Mungkin tiba-tiba meminta atau menginginkan sesuatu yang ”aneh” atau biasa disebut ngidam
4.      Semula tampak gembira, namun dalam beberapa detik bisa mendadak menangis tersedu-sedu, merasa tertekan dan sedih , tanpa sebab yang jelas atau karena masalah sepele.
Yang dapat suami lakukan:
1.      Bawakan krekers dan air putih atau jus buah ke tempat tidur. Sehingga, begitu istri bangun dan morning sickness mendera, keluhan yang dirasakannya langsung hilang., berkat perhatian dan kasih sayang yang suami berikan.
2.      Buatlah istri merasa nyaman, sehingga dapat beristirahat dan cukup tidur. Misalnya, memutar lagu-lagu yang lembut.
3.      Bersiaplah menghadapi ”ujian” untuk mengukur seberapa besar cinta suami kepada istri. Jangan kaget bila istri menginginkan sesuatu yang ”aneh” di tengah malam. Karena istri sedang ngidam. Bila mampu, tak ada salahnya memenuhi permintaannya. siapa tau suami ”lulus ujian” dengan nilai cemerlang nantinya.
4.      Tunjukan rasa bahagia dan antusias terhadap janin dalam kandungan. Sapaan ekspresif terhadap si kecil, misalnya ”hallo, lagi ngapain di situ?” atau seruan ”Woa...” sudah merupakan dukungan mental yang menyenangkan hati. Juga, ungkapkan perasaan cinta Anda padanya karena pada saat-saat seperti ini istri membutuhkan perhatian dan kasih sayang suami lebih dari biasanya.

Trimester kedua: masa-masa bahagia
Yang dapat suami lakukan yaitu:
1.      Tetap menunjukkan kalau anda mengerti dan memahami benar perubahan emosi yang cepat serta perasaan lebih peka yang dialaminya, sebab ini wajar dan alami terjadi pada ibu hamil.
2.      Dampingi dan antarlah selalu pasangan setiap kali berkunjung ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya.
3.      Dampingi dan berpatisipasilah secara aktif di kelas senam hamil (senam Lamaze) bersamanya. Ajaklah dia untuk kembali menikmati hubungan seks.

Trimester ketiga: takut dan cemas menghadapi hari-H
Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester ketiga:
1.      Semakin dekat dengan hari-H, biasanya dia merasa semakin takut dan cemas.
2.      Merasa penampilannya tidak menarik karena perubahan bentuk fisiknya.
3.      Sering mengeluh sakit, pegal, ngilu, dan berbagai rasa tidak nyaman pada tubuhnya, terutama pada punggung dan panggul, karena bayi sudah semakin besar dan sudah mulai menyiapkan diri untuk lahir.
4.      Mengeluh sulit tidur karena perutnya yang semakin membesar itu akan membuatnya tidak nyaman ketika berbaring.
Yang dapat suami lakukan:
1.      Bantu pasangan untuk mengatasi rasa cemas dan takut dalam menghadapi proses persalinan. Misalnya, dengan mengalihkan perhatiannya dengan cara mengajaknya berbelanja keperluan si kecil.
2.      Pujilah kalau dia tetap cantik dan menarik, berbagai perubahan fisik tidak sedikitpun mengurangi kadar cinta Anda padanya.
3.      Bantulah meringankan berbagai keluhan. Misalnya, dengan memijat pegal-pegal di belakang tubuhnya.
Bersiaplah untuk membantu dan menemaninya saat dia sulit tidur

F      DESA SIAGA
Desa siaga adalah sebuah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan (bencana dan kegawatdaruratan kesehatan) secara mandiri. (KEPMENKES NO 564/MENKES/SK/VIII/2006).
Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (PKD/Poskesdes). Salah satu bentuk pembinaannya yaitu menumbuhkan perilaku hidup bersih dan sehat pada setiap tatanan dalm masyarakat.
Pengembangan Desa Siaga penting untuk dilaksanakan karena Desa Siaga merupakan basis bagi Indonesia sehat 2010. Pengembangan Desa Siaga dilaksanakan dengan pendekatan penggerakan dan pengorganisasian masyarakat agar kelestariannya lebih terjamin. Untuk keberhasilan pengembangan Desa Siaga, puskesmas dan jaringannya, rumah sakit dan Dinkes Kabupaten/Kota perlu direvitalisasi. Berbagai pihak yang bertangung jawab untuk pengembangan Desa Siaga (stakeholders) diharapkan dapat berperan optimal sesuai tugasnya, agar pengembangan Desa Siaga berhasil.
Desa Siaga juga dapat merupakan pengembangan dari konsep Siap-Antar-Jaga, sehingga diharapkan pada gilirannya akan menjadi Desa Siaga dan selanjutnya Desa Sehat yang dilengkapi komponen-komponen yaitu dikembangkannya pelayanan kesehatan dasar dan UKBM, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di kalangan masyarakat, diciptakannya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kegawatdaruratan dan bencana, serta sistem pembiayaan kesehatan yang berbasis masyarakat.
Sebagaimana diketahui, secara elementer komponen dari manajemen adalah 3 P, yaitu P1 - Perencanaan (terdiri atas Persiapan, Pembentukan Tim, Penyusunan Pedoman, Penerbitan Peraturan Perundang-undangan, Penganggaran. dan Iain-Iain). P2 - Penggerakan Pelaksanaan (terdiri atas Pemilihan Desa, Pengadaan SDM, Pengadaan Sarana, Pelaksanaan Kegiatan). dan P3 - Pemantauan, Pengawasan dan Penilaian. Kesemuanya itu harus tertampung sebagai tugas/peran dari jajaran kesehatan dan pemangku kepentingan lainnya yang terkait (sesuai dengan kewenangan menurut Otonomi Daerah). Dengan demikian, maka pelaksanaan konsep dan kebijakan Desa Siaga akan berjalan dengan sukses.

A.    Tujuan Desa Siaga
1.    Tujuan Umum:
Terwujudnya desa dengan masyarakat yang sehat, peduli dan tanggap terhadap masalah-masalah kesehatan (bencana dan kegawat daruratan kesehatan) di desanya.

2.    Tujuan Khusus:
a.    Meningkatnya pengetahuan dan kesadearan masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan dan melaksanakan perilaku hidup bersih.
b.    Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan.
c.    Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap resiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah penyakit, dan sebagainya ).
d.   Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.

B.     Sasaran Pengembangan Desa Siaga.
Sasaran pengembangan Desa Siaga adalah:
1.    Semua individu dan keluarga di desa yang diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya.
2.    Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perilaku individu dan keluarga di desa atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut yaitu tokoh-tokoh pemerintahan/ masyarakat/ agama/ perempuan/ pemuda, PKK, Karang Taruna, media massa, dan lain-lain.
3.    Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan, peraturan perundang-undangan, dana, tenaga, sarana, dan lain-lain. Yaitu Kepala Desa, Camat, Pejabat pemerintahan lainnya, dunia usaha, donatur dan stakeholders lainnya.

C.  Kriteria Desa Siaga
1.    Memiliki Pos Kesehatan Desa (poskesdes) sbg UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat), (dapat dikembangkan dari Pondok Bersalin Desa) yang juga berfungsi memberikan pelayanan kesehatan dasar.
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Dalam Desa Siaga
a.    Pengertian Poskesdes
Poskesdes adalah upaya UKBM yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/ menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. Poskesdes dapat dikatakan sebagai sarana kesehatan yang merupakan pertemuan antara upaya-upaya masyarakat dan dukungan pemerintah.
Pelayanannya meliputi upaya-upaya promotif, preventif, dan kuratif yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan (terutama bidan) dengan melibatkan kader atau tenaga sukarela lainnya. Sasarannya adalah Ibu, bayi, anak balita, wanita usia subur, usila, dan masyarakat lainnya.

b.    Kegiatan Poskendes
Poskesdes diharapkan dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat desa, sekurang-kurangnya:
·      Pengamatan epidemiologis sederhana terhadap penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB, dan faktor-faktor resikonya (termasuk status gizi) serta kesehatan ibu hamil yang beresiko.
·      Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB, serta faktor-faktor resikonya (termasuk kurang gizi).
·      Kesiapsiagaan dan penanggualangan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan.
·      Pelayanan medis dasar, sesuai dengan kompetensinya.
·      Kegiatan-kegiatan lain, yaitu promosi kesehatan untuk peningkatan keluarga sadar gizi, peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penyehatan lingkungan, dan lain-lain, merupakan kegiatan pengembangan.
Poskesdes juga diharapkan sebagai pusat pengembangan atau revitalisasi berbagai UKBM lain yang dibutuhkan masyarakat desa (misalnya Warung Obat Desa, Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain). Dengan demikian, Poskesdes sekaligus berperan sebagai coordinator dan UKBM-UKBM tersebut.
c.    Sumber Daya Poskendes
Poskesdes diselenggarakan oleh tenaga kesehatan (minimal seorang bidan), dengan dibantu oleh sekurang-kurangnya dua orang kader.
Untuk menyelenggarakan Poskesdes harus tersedia sarana fisik bangunan, perlengkapan, dan peralatan kesehatan. Guna kelancaran komunikasi dengan masyarakat dan dengan sarana kesehatan (khususnya Puskesmas), Poskesdes seyogyanya memiliki juga sarana komunikasi (telepon, ponsel, atau kurir).
Pembangunan saranan fisik Poskesdes dapat dilaksanakan melalui berbagai cara, yaitu dengan urutan alternative sebagai berikut:
·      Mengembangkan Pondok Bersalin Desa (Polindes) yang telah ada menjadi Poskesdes.
·      Memanfaatkan bangunan yang sudah ada, yaitu misalnya Balai RW, Balai Desa, Bali Pertemuan Desa, dan lain-lain.
·      Membangun baru, yaitu dengan pendanaan dari Pemerintah (Pusat atau Daerah), donator, dunia usaha, atau swadaya masyarakat.

2.    Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM)
UKBM merupakan wahana pemberdayaan masyarakat, yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola oleh, dari, untuk dan bersama masyarakat, dengan bimbingan petugas Puskesmas. lintas sektor dan lembaga terkait lainnya. UKBM dapat berupa antara lain :
a.    Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat guna memberikan kemudahan kepada masyarakat, utamanya dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk menunjang percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
b.    Posyandu Usila. Posyandu Usila merupakan wahana pelayanan bagi kaum usia lanjut (usila), yang dilakukan dari, oleh dan untuk kaum usila. Titik berat pelayanannya pada upaya promotif dan preventif, tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.
c.    Pondok Bersalin Desa (Polindes). Polindes adalah salah satu UKBM yang dibentuk dalam upaya mendekatkan dan memudahkan masyarakat untuk memperoleh pelayanan profesional Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga Berencana (KB), yang dikelola oleh Bidan Di Desa (BDD) dan pamong desa.
d.   Pos Obat Desa (POD) atau Warung Obat Desa (WOD). POD atau WOD adalah wahana edukasi dalam rangka alih pengetahuan dan keterampilan tentang obat dan pengobatan sederhana dari petugas kepada kader dan dari kader kepada masyarakat, guna memberikan kemudahan dalam memperoleh obat yang bermutu dan terjangkau. Sasarannya adalah: kelompok masyarakat yang masih rendah keterjangkauannya dalam hal obat dan pengobatan.
e.    Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK). Pos UKK adalah wadah dari serangkaian upaya pemeliharaan kesehatan pekerja. diselenggarakan oleh masyarakat pekerja yang memiliki jenis kegiatan usaha yang sama dalam meningkatkan produktivitas kerja.
f.      Saka Bhakti Husada (SBH) . SBH adalah wadah pengembangan minat, pengetahuan dan keterampilan di bidang kesehatan bagi generasi muda, khususnya anggota Gerakan Pramuka, untuk mernbaktikan dirinya kepada masyarakat di lingkungan sekitar.
g.     Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren). Poskestren merupakan wahana dalam mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat pondok pesantren dengan prinsip dari, oleh, dan untuk warga pondok pesantren, yang mengutamakan pelayanan promotif dan preventif tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.

3.    Memiliki sistem surveilans (penyakit, gizi, kesling, & PHBS) berbasis masyarakat yang berfungsi dengan baik
a.    Pengertian
Surveilans berbasis masyarakat adalah pemantauan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap masalah-masalah kesehatan dan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi atau menyebabkan masalah-masalah tersebut. Pemantauan ini dilakukan melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus.
Selanjutnya hasil pemantauan oleh masyarakat diinformasikan kepada petugas kesehatan atau unit yang bertanggung jawab untuk dapatnya diambil tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien. Kegiatan surveilans yang dilakukan oleh masyarakat merupakan kegiatan dalam rangka kewaspadaan dini terhadap ancaman muncul atau berkembangnya penyakit/masalah kesehatan yang disebabkan antara lain oleh status gizi, kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat.
Beberapa contoh penyakit dan masalah kesehatan yang sering muncul di masyarakat dan cenderung menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah: diare, demam berdarah dengue, malaria, campak, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), dan keracunan makanan. Sedangkan faktor-faktor risikonya dapat berupa gizi buruk, perilaku yang merugikan kesehatan, dan lingkungan yang tidak sehat.
b.    Tujuan
Secara umum tujuan dari surveilans berbasis masyarakat adalah terciptanya sistem kewaspadaan dan kesiapsiagaan dini di masya­rakat terhadap kemungkinan terjadinya penyakit dan masalah-ma­salah kesehatan yang akan mengancam dan merugikan masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan secara khusus, surveilans berbasis masyarakat bertujuan agar:
1)   Masyarakat mengetahui secara dini tanda-tanda akan timbulnya penyakit atau masalah-masalah kesehatan lain, dan melaporkannya kepada petugas kesehatan.
2)   Masyarakat mengetahui secara dini tanda-tanda akan timbulnya masalah lingkungan di wilayahnya sebagai faktor risiko (yaitu misalnya tentang persediaan air bersih, pembuangan air limbah, jamban, pengelolaan sampah, dan perumahan yang meliputi ventilasinya, pencahayaannya, kepadatan huninya, dan Iain-Iain).
3)   Masyarakat mengetahui secara dini tanda-tanda akan timbulnya masalah gizi sebagai faktor risiko.
4)   Masyarakat mengetahui secara dini berkembangnya perilaku hidup di kalangan warga yang merugikan kesehatan. baik perorangan, keluarga maupun masyarakat, sebagai faktor risiko.
c.    Kegiatan
Diharapkan masyarakat melaporkan segera kepada petugas kesehatan atau unit terkait bila ditemukan kasus penyakit, masalah gizi, masalah lingkungan atau penyimpangan perilaku yang terjadi pada masyarakat di wilayahnya. Setelah laporan disampaikan oleh masyarakat kepada petugas kesehatan atau unit terkait, tindakan penanggulangan segera dilakukan oleh yang berwenang. Dalam pelaksanaannya, surveilans berbasis masyarakat dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut:
1)   Sosialisasi kepada masyarakat
2)   Advokasi kepada pengambil kebijakan
3)   Identifikasi kasus laporan dari masyarakat
4)   Pengolahan, analisis dan interpretasi data
5)   Penyebaran informasi kepada masyarakat dan unit terkait
6)   Rekomendasi dan penyampaian alternatif tindak lanjut.
7)   Tindak lanjut.

4.    Memiliki sistem pelayanan gawat darurat (safe community) berbasis masyarakat yang berfungsi dengan baik
a.    Pengertian
Kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat adalah upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya kegawatdaruratan sehari-hari dan bencana, melalui langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
b.    Tujuan
Secara umum tujuan dari kesiapsiagaan dan penanggulangan keadaan darurat dan bencana adalah masyarakat mampu mengenali, mengurangi, mencegah, dan menanggulangi keadaan darurat sehari-hari dan bencana serta faktor-faktor yang dapat menimbulkan keadaan tersebut.
c.    Kegiatan
Titik berat dari konsep kesiapsiagaan masyarakat adalah kegiatan pencegahan dan promosi kesehatan. Kesiapsiagaan masyarakat harus dilaksanakan secara berkesinambungan dan saling mendukung antara masyarakat dan tenaga kesehatan. Masing-masing unsur harus berperan dengan pembagian tugas sebagai berikut:
1)   Masyarakat
a)    Mengenali, mengurangi dan mencegah faktor-faktor yang dapat menimbulkan masalah kesehatan maupun kegawatdaruratan sehari-hari.
b)   Meningkatkan kemampuan mengatasi masalah kesehatan, khususnya masalah kegawatdaruratan sehari-hari dan bencana.
c)    Mengenai kondisi lingkungan di desa/kelurahan. Misal: lokasi sekolah, lokasi peternakan, dan Iain-Iain.
d)   Mengenal kondisi yang dapat menimbulkan masalah kesehatan di desa/kelurahan. Misal: sampah pasar yang berserakan, saluran air limbah yang tersumbat, sungai yang tercemar, sumur yang tidak mempunyai bibir, dan lain-lain.
e)    Melakukan kegiatan yang bersifat pencegahan. Misal: pembuatan bibir sumur, pembuatan jamban keluarga, pembersihan lingkungan, dan lain-lain.
f)    Melakukan kegiatan yang bersifat promosi terhadap kesehatan. Misal: penyuluhan kebersihan lingkungan, pemanfaatan tanaman obat, bahaya obat terlarang, membiasakan diri pola hidup sehat dan Iain-Iain.
g)   Peningkatan kemampuan di bidang penanganan kegawat­daruratan sehari-hari. Misal: pelatihan P3K, penanganan anak sakit, pembuatan dan pemanfaatan oralit, tata cara perbaikan kualitas air bersih, sanitasi, pembuangan kotoran, tata cara pencegahan. dan pemberantasan penyakit, dan lain-lain.
h)   Melaporkan masalah kesehatan yang ada kepada petugas kesehatan. Misal: kematian, kelahiran, kecelakaan, dan Iain-Iain.
2)   Tenaga Kesehatan
Dukungan tenaga kesehatan, khususnya Puskesmas, dapat dilakukan melalui :
a)    Penyediaan informasi dan konsultasi kesehatan.
b)   Pelatihan Kader.
c)    Pelayanan kegawatdaruratan sehari-hari.
d)   Upaya pemulihan kesehatan.
e)    Pembiayaan Kesehatan Berbasis Masyarakat.

Pengembangan lingkungan yang sehat di desa diarahkan kepada terciptanya lingkungan yang tertata dengan baik. bebas dari pencemaran, sehingga menjamin kesehatan bagi warga/masyarakat desa. Adapun aspek-aspek yang perlu dicakupi dalam rangka pengembangan lingkungan sehat ini antara Iain adalah sebagai berikut:
a)    Perumahan: mengupayakan terciptanya rumah-rumah penduduk yang sehat (rumah sehat) dengan lingkungan permukiman yang nyaman, aman. dan sehat.
b)   Udara: menjaga agar udara di desa tetap segar dan bersih, bebas dari polusi udara seperti asap knalpot, asap pabrik, partikel-partikel debu, dan Iain-Iain.
c)    Air menjaga agar mata air, air sungai dan sumber air lain bersih dan bebas dari polusi seperti buangan limbah pabrik, sampah, pestisida/pupuk, dan Iain-Iain. Selain itu juga mengupayakan adanya penyediaan air bersih yang layak minum bagi penduduk desa.
d)   Limbah Padat. mengupayakan agar pembuangan sampah rumah tangga dikelola dengan baik. sehingga tidak mencemari lingkungan, Demikian juga sampah dari tempat-tempat lain seperti pasar pabrik, dan Iain-Iain.
e)    Limbah Cair. mengupayakan agar limbah cair dari rumah tangga, pabrik. dan pusat-pusat kegiatan lain dikelola dengan baik, sehingga tidak mencemari lingkungan.
f)    Tempat Umum: mengupayakan agar tempat-tempat umum seperti pasar, terminal, sekolah, dan lain-lain memenuhi syarat-syarat kesehatan serta dikelola dengan baik dan benar.

5.    Memiliki sistem pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat (mandiri dalam pembiayaan kesehatan)
Secara umum terdapat dua bentuk sumber pendanaan dari masyarakat yang dapat digali untuk digunakan dalam peningkatan upaya kesehatan, yaitu dana masyarakat yang bersifat aktif dan dana masyarakat yang bersifat pasif.
a)    Dana Masyarakat yang Bersifat Aktif
Dana masyarakat yang bersifat aktif adalah dana yang secara khusus digali atau dikumpulkan oleh masyarakat yang digunakan untuk membiayai upaya kesehatan. Sering disebut dengan Dana Sehat.
Dana Sehat merupakan suatu upaya dari, oleh, dan untuk masyarakat yang diselenggarakan berdasarkan azas gotong-royong dan bertujuan untuk meningkatkan taraf kesehatan anggotanya, melalui usaha perhimpunan dana secara praupaya guna menjamin pemeliharaan kesehatan.
Pada dasarnya, pengertian dana sehat mencakup tiga hal pokok :
(1) Adanya kesepakatan berdasarkan prinsip gotong-royong dari sekelompok masyarakat guna mengumpulkan sejumlah dana untuk pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.
(2) Adanya upaya pengembangan suatu bentuk pemeliharaan kesehatan yang sesuai dengan dan dapat memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat tersebut.
(3) Adanya sistem pengelolaan dari dana yang terkumpul, sehingga mampu menjamin pemeliharaan kesehatan bagi anggotanya secara berkesinambungan.
Dalam pengembangannya, pengelolaan Dana Sehat dapat dikaitkan dengan suatu usaha tertentu. Persentase tertentu dari hasil usaha disisihkan untuk digunakan dalam meningkatkan upaya kesehatan bagi anggotanya.
Berbagai cara pengumpulan dana masyarakat yang bersifat aktif antara lain melalui iuran, arisan, sumbangan, jimpitan, dan penyisihan hasil usaha. Berbagai bentuk dana sehat yang telah berkembang di masyarakat antara lain Tabungan Ibu Bersalin, Arisan Jamban Keluarga, Jaminan Ibu Bersalin, Dana sosial Ibu Bersalin, Arisan Tabungan Amal Sehat, Dana Sehat Kelompok Usaha Bersama.

b)   Dana Masyarakat Yang Bersifat Pasif
Dana masyarakat yang bersifat pasif adalah pemanfaatan dana yang sudah ada di masyarakat untuk membiayai upaya kesehatan.
Salah satu bentuk dana pasif adalah dana sosial keagamaan, yaitu misalnya dana yang berasal dari zakat, infaq, shodaqoh, wasiat, hibah, waris, dana kolekte, dana persembahan, dana diakonia, dana aksi puasa, dana punia, dan dana paramita yang dikelola dan didistribusikan sesuai ajaran agama. Saat ini pemanfaatan dana sosial keagamaan untuk pelayanan kesehatan telah dilakukan oleh berbagai pengelola dana masing-masing, baik dari agama Islam, maupun Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. Namun pemanfaatannya masih terbatas pada upaya bantuan untuk berobat sewaktu sakit (kuratif) serta bakti sosial, sehingga dirasakan belum optimal.
Bentuk dana pasif lain adalah penyisihan dana sosial kemasyarakatan yang telah terkumpul di masyarakat untuk membiayai upaya kesehatan. Salah satu contoh dana sosial kemasyarakatan adalah dana rareongan sarumpi yang pernah dilakukan di Provinsi Jawa Barat.
Dana masyarakat yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kegiatan yang mendukung terselenggaranya Desa Siaga. Beberapa kegiatan yang dapat memanfaatkan dana masyarakat antara lain:
1)   Pembangunan Poskesdes dan pengembangan UKBM.
2)   Upaya pemberdayaan masyarakat seperti kemitraan antara bidan dengan dukun bayi, lokakarya mini dengan tokoh masyarakat dalam upaya mengembangkan komponen pemberdayaan masyarakat, dan Iain-Iain.
3)   Upaya promotif seperti pelatihan kader, penyuluhan kese­hatan dan gizi, perlombaan di bidang kesehatan, dan lain-lain.
4)   Upaya preventif seperti surveilans berbasis masyarakat, kesiapsiagaan desa menghadapi kegawatdaruratan kese­hatan, pemeriksaan kesehatan berkala termasuk pemeriksaan ibu hamil dan balita, imunisasi, penyehatan lingkungan, pemberantasan nyamuk. dan Iain-Iain.
5)   Upaya kuratif dan rehabilitatif seperti pengobatan kesehatan dasar, pertolongan persalinan, dan rujukan kasus ke Puskesmas.
6)   Upaya lain seperti biaya transportasi untuk mengantar warga ke sarana pelayanan kesehatan atau memanggil petugas kesehatan, biaya transportasi pendamping ibu bersalin, biaya hidup keluarga pasien yang tidak mampu, dan Iain-Iain.

6.    Masyarakat berperilaku hidup bersih & sehat (PHBS)
a.    Pengertian
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan serta dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya.
PHBS dapat digolongkan ke dalam beberapa kelompok. Di luar PHBS di bidang Gizi yang telah dicakup dalam pengembangan keluarga sadar gizi  terdapat :
1)   Kelompok PHBS bidang Obat dan Farmasi, yaitu misalnya: tidak menyalahgunakan NAPZA, memelihara taman obat keluarga, dan Iain-Iain.
2)   Kelompok PHBS bidang KIA & KB, yaitu misalnya: memeriksakan kehamilan secara teratur, meminta pertolongan tenaga kesehatan untuk persalinan, menjadi akseptor KB, dan Iain-Iain.
3)   Kelompok PHBS bidang Penyakit dan Kesehatan Lingkungan, yaitu misalnya: menghuni rumah sehat, memiliki persediaan air bersih, memberantas jentik nyamuk, dan Iain-Iain.
4)   Kelompok PHBS bidang Pemeliharaan Kesehatan, yaitu misalnya: memiliki jaminan pemeliharaan kesehatan, aktif dalam UKBM, memanfaatkan Puskesmas. dan Iain-Iain.
5)   PHBS merupakan tujuan yang akan dicapai oleh Program Promosi Kesehatan.

b.    Sasaran
Di Desa Siaga, Program Promosi Kesehatan dilaksanakan untuk menciptakan PHBS di tatanan rumah tangga. Prioritas kedua, PHBS di tatanan institusi pendidikan (sekolah dan madrasah). Kelompok sasaran di tatanan rumah tangga adalah:
1)   Pasangan usia subur.
2)   Ibu hamil dan atau Ibu menyusui.
3)   Bayi/anak di usia di bawah lima tahun (Balita).
4)   Tenaga kerja laki-laki dan perempuan.
5)   Remaja laki-laki dan perempuan, termasuk pelajar.
6)   Penduduk berusia lanjut (usila).
Sedangkan sasaran di tatanan institusi pendidikan adalah:
1)   Pengelola/pemilik institusi pendidikan.
2)   Pendidik (guru).
3)   Murid (siswa).
4)   Lain-lain (misalnya pemilik warung/kantin).

c.    Kegiatan.
Promosi Kesehatan dalam rangka Desa Siaga dilaksanakan dengan strategi dasar pemberdayaan masyarakat yang didukung oleh bina suasana dan advokasi.
Pelaksana pemberdayaan masyarakat adalah para petugas Puskesmas, yaitu melalui tiga cara:
1)   Konseling terhadap individu pasien.
2)   Kunjungan rumah.
3)   Pengorganisasian masyarakat.
Bina suasana dilakukan oleh Puskesmas dengan dibantu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, yaitu dengan cara:
1)   Mendayagunakan pengaruh tokoh-tokoh masyarakat.
2)   Mendayagunakan pengaruh kelompok-kelompok dalam masyarakat (PKK, majelis taklim, dan Iain-Iain)
3)   Mendayagunakan media, baik media cetak (poster, leaflet, dan lain-lain) maupun media elektronik (radio, televisi. dan Iain-Iain).
4)   Advokasi juga-dilakukan oleh Puskesmas dengan dibantu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. yaitu dalam rangka .mendapatkan dukungan (kebijakan, pengaturan. dana. dan Iain-Iain) untuk terciptanya PHBS masyarakat.

7.    Pengembangan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
a.    Pengertian
Pengembangan kadarzi adalah pengembangan keluarga yang berperilaku gizi seimbang, serta mampu mengenali dan mengatasi masalah gizi anggota keluarganya.
Perilaku gizi seimbang. adalah perilaku yang dilandasi pengetahuan dan sikap yang sesuai, meliputi perilaku mengkonsumsi makanan seimbang serta perilaku hidup bersih dan sehat. Makanan seimbang, adalah pilihan makanan keluarga yang mengandung semua zat gizi yang diperlukan masing-masing anggota keluarga dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan bebas dari pencemaran.
b.    Sasaran
Sasaran pengembangan kadarzi adalah keluarga, karena:
1)   Pengambilan keputusan dalam bidang pangan, gizi dan kesehatan dilaksanakan terutama di tingkat keluarga.
2)   Sumber daya dimiliki dan dimanfaatkan di tingkat keluarga.
3)   Masalah gizi yang terjadi di tingkat keluarga erat kaitannya dengan perilaku keluarga, tidak semata-mata disebabkan oleh kemiskinan dan ketidaksediaan pangan.
4)   Kebersamaan antar keluarga yang merupakan wujud dari pemberdayaan dapat memobilisasi masyarakat untuk memperbaiki keadaan gizi dan kesehatan.
c.    Tujuan
Secara umum tujuan pengembangan kadarzi adalah memandirikan keluarga berperilaku gizi seimbang, untuk mencapai keadaan gizi optimal.
Secara khusus tujuan pengembangan kadarzi adalah:
1)   Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga tentang gizi seimbang.
2)   Meningkatkan kemampuan keluarga untuk mengenali dan memanfaatkan sumber daya yang ada.
3)   Meningkatkan keadaan gizi keluarga.
d.   Kegiatan
1)   Di Tingkat Keluarga
a)    Keluarga mencari informasi gizi yang tersedia secara terus-menerus.
b)   Tukar pengalaman antar keluarga serta pendampingan oleh tokoh masyarakat dan petugas.
c)    Memanfaatkan fasilitas rujukan kompeten secara berjenjang yang terjangkau (Posyandu, Puskesmas dan Rumah Sakit).
2)   Di Tingkat Masyarakat:
a)    Pembentukan kelompok masyarakat yang mendukung upaya menuju Kadarzi (LSM, organisasi keagamaan, organisasi kepemudaan, organisasi wanita. PKK). Setiap kelompok memiliki akses terhadap informasi gizi dan informasi sistem pelayanan gizi.
b)   Rekruitmen kader (minimal terdapat seorang kader di masing-masing kelompok).
c)    Setiap Kelompok aktif menyediakan/menyebarluaskan informasi dan sumber daya tentang kesehatan dan gizi.

D.  Tahapan Perkembangan Desa Siaga
Ketujuh kriteria tersebut di atas tentu tidak mungkin diciptakan sekaligus. Oleh karena itu, pengembangan Desa Siaga dilaksanakan secara bertahap. Berkaitan dengan hal tersebut, maka ditetapkan adanya empat tingkatan Desa Siaga, yaitu:
a.    Desa Siaga Pratama, bila telah memenuhi tiga kriteria, yaitu:
1)   Memiliki sarana pelayanan kesehatan dasar (bagi yang tidak memiliki akses ke Puskesmas/Pustu, dikembangkan Pos Kesehatan Desa.
2)   Memiliki berbagai UKBM sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (Posyandu, Pos/Warung Obat Desa, dan Iain-Iain).
3)   Memiliki sistem pengamatan (surveilans) penyakit dan faktor-faktor risiko yang berbasis masyarakat.
b.    Desa Siaga Madya, bila telah memenuhi empat kriteria, yaitu:
1)   Memiliki sarana pelayanan kesehatan dasar (bagi yang tidak memiliki akses ke Puskesmas/Pustu, dikembangkan Pos Kese­hatan Desa).
2)   Memiliki berbagai UKBM sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (Posyandu. Pos/Warung Obat Desa. dan Iain-Iain).
3)   Memiliki sistem pengamatan (surveilans) penyakit dan faktor-faktor risiko yang berbasis masyarakat.
4)   Memiliki sistem kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat.
c.    Desa Siaga Purnama, bila telah memenuhi lima kriteria, yaitu:
1)      Memiliki sarana pelayanan kesehatan dasar (bagi yang tidak memiliki akses ke Puskesmas/Pustu, dikembangkan Pos Kesehatan Desa).
2)   Memiliki berbagai UKBM sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (Posyandu, Pos/Warung Obat Desa, dan Iain-Iain).
3)   Memiliki sistem pengamatan (surveilans) penyakit dan faktor-faktor risiko yang berbasis masyarakat.
4)   Memiliki sistem kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat.
5)   Memiliki sistem pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat.
d.   Desa Siaga Mandiri. bila telah memenuhi semua kriteria, yaitu:
1)   Memiliki sarana pelayanan kesehatan dasar (bagi yang tidak memiliki akses ke Puskesmas/Pustu, dikembangkan Pos Kesehatan Desa).
2)   Memiliki berbagai UKBM sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (Posyandu, Pos/Warung Obat Desa, dan lain-lain).
3)   Memiliki sistem pengamatan (surveilans) penyakit dan faktor-faktor risiko yang berbasis masyarakat.
4)   Memiliki sistem kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat.
5)   Memiliki sistem pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat
6)   Memiliki lingkungan yang sehat.
7)   Masyarakatnya sadar gizi serta berperilaku hidup bersih dan sehat.

E.  Langkah-Langkah Pengembangan Desa Siaga
Pengembangan Desa Siaga dilaksanakan dengan membantu/ memfasilitasi masyarakat untuk menjalani proses pembelajaran melalui siklus atau spiral pemecahan masalah yang terorganisasi (pengorganisasian masyarakat). Yaitu dengan menempuh tahap-tahap :
1.    mengidentifikasi masalah, penyebabnya, dan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah,
2.    mendiagnosis masalah dan merumuskan alternatif-alternatif pemecahan masalah.                    
3.    menetapkan alternatif pemecahan masalah yang layak, merencanakan dan melaksanakannya. serta
4.    memantau, mengevaluasi dan membina kelestarian upaya-upaya yang telah dilakukan.
Meskipun di lapangan banyak variasi pelaksanaannya, namun secara garis besarnya langkah-langkah pokok yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut:
a.    Pengembangan Tim Petugas
Langkah ini merupakan awal kegiatan, sebelum kegiatan-kegiatan lainnya dilaksanakan. Tujuan langkah ini adalah mempersiapkan para petugas kesehatan yang berada di wilayah Puskesmas, baik petugas teknis maupun petugas administrasi. Persiapan para petugas ini bisa berbentuk sosialisasi, pertemuan atau pelatihan yang bersifat konsolidasi, yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
Keluaran atau output dari langkah ini adalah para petugas yang memahami tugas dan fungsinya, serta siap bekerjasama dalam satu tim untuk melakukan pendekatan kepada pemangku kepentingan dan masyarakat.
b.    Pengembangan Tim Di Masyarakat
Tujuan langkah ini adalah untuk mempersiapkan para petugas, tokoh masyarakat, serta masyarakat, agar mereka tahu dan mau bekerjasama dalam satu tim untuk mengembangkan Desa Siaga. Dalam langkah ini termasuk kegiatan advokasi kepada para penentu kebijakan, agar mereka mau memberikan dukungan, baik berupa kebijakan atau anjuran, serta restu, maupun dana atau sumber daya lain, sehingga pengembangan Desa Siaga dapat berjalan dengan lancar. Sedangkan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat bertujuan agar mereka memahami dan mendukung, khususnya dalam membentuk- opini publik guna menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan Desa Siaga.
Jadi dukungan yang diharapkan dapat berupa dukungan moral, dukungan finansial atau dukungan material, sesuai kesepakatan dan persetujuan masyarakat dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
Jika di daerah tersebut telah terbentuk wadah-wadah kegiatan masya­rakat di bidang kesehatan seperti Konsil Kesehatan Kecamatan atau Badan Penyantun Puskesmas, Lembaga Pemberdayaan Desa, PKK, serta organisasi kemasyarakatan lainnya, hendaknya lembaga-lembaga ini diikutsertakan dalam setiap pertemuan dan kesepakatan.
c.    Survei Mawas Diri
Survei mawas diri (SMD) atau Telaah Mawas Diri (TMD) atau Commu­nity Self Survey (CSS) bertujuan agar masyarakat dengan bimbingan petugas mampu melakukan telaah mawas diri untuk desanya. Survei ini harus dilakukan oleh pemuka-pemuka masyarakat setempat dengan bimbingan tenaga kesehatan. Dengan demikian, diharapkan mereka menjadi sadar akan permasalahan yang dihadapi di desanya, serta bangkit niat dan tekad untuk mencari solusinya. Untuk itu, sebelumnya perlu dilakukan pemilihan dan pembekalan keterampilan bagi mereka Keluaran atau output dari SMD ini berupa identifikasi masalah-masalah kesehatan serta daftar potensi di desa yang dapat didayagunakan dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan tersebut.
d.   Musyawarah Masyarakat Desa
Tujuan penyelenggaraan musyawarah atau lokakarya desa ini adalah mencari alternatif penyelesaian masalah kesehatan hasil SMD dikaitkan dengan potensi yang dimiliki desa. Di samping itu, juga untuk menyusun rencana jangka panjang pengembangan Desa Siaga.
Inisiatif penyelenggaraan musyawarah sebaiknya berasal dari para tokoh masyarakat yang telah sepakat mendukung pengembangan Desa Siaga. Peserta musyawarah adalah tokoh-tokoh masyarakat, termasuk tokoh-tokoh perempuan dan generasi muda setempat. Bahkan sedapat mungkin dilibatkan pula kalangan dunia usaha yang bersedia men­dukung pengembangan Desa Siaga dan kelestariannya (untuk itu diperlukan upaya advokasi).
Data serta temuan lain yang diperoleh pada saat SMD disajikan, utamanya adalah daftar masalah kesehatan, data potensi, serta harapan masyarakat. Hasil pendataan tersebut dimusyawarahkan untuk penentuan prioritas, dukungan dan kontribusi apa yang dapat disumbangkan oleh masing-masing individu/institusi yang diwakilinya, serta langkah-langkah solusi untuk pengembangan Desa Siaga. Dalam hal ini, seyogianya masyarakat difasilitasi untuk sampai kepada kesimpulan tentang pentingnya hal-hal yang disebutkan sebagai kriteria Desa Siaga.
Musyawarah masyarakat desa dapat dilakukan dalam dua tahap, yaitu:
1)   Tahap I:
a)    Memahami masalah-masalah kesehatan dan menyusun masalah-masalah kesehatan tersebut berdasar prioritas
b)   Mendiagnosis penyebab masalah kesehatan prioritas pertama, mempertimbangkan pendayagunaan potensi-potensi yang ada untuk mengatasinya, merumuskan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan, dan menetapkan alternatif yang paling layak untuk dilaksanakan.
2)   Tahap II:
a)    Menyusun rencana jangka panjang Pengembangan Desa Siaga.
b)   Menyusun rencana operasional pemecahan masalah prioritas pertama.
c)    Rencana yang disusun hendaknya lengkap dengan waktu dan tempat penyelenggaraan, pelaksananya dan pembagian tugasnya serta sarana dan prasarana yang diperlukan.
e.    Pelaksanaan Kegiatan
Secara operasional pembentukan Desa Siaga dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut:
1)   Pemilihan Pengurus dan Kader Desa Siaga
Pemilihan pengurus dan kader Desa Siaga dilakukan melalui pertemuan khusus para pimpinan formal desa dan tokoh masyarakat serta beberapa wakil masyarakat. Pemilihan dilakukan secara musyawarah & mufakat. sesuai dengan tata cara dan kriteria yang berlaku, dengan difasilitasi oleh Puskesmas.
2)   Orientasi/Pelatihan Kader Desa Siaga
Sebelum melaksanakan tugasnya. kepada pengelola dan kader desa yang telah ditetapkan perlu diberikan orientasi atau pelatihan. Orientasi/pelatihan dilaksanakan oleh Puskesmas sesuai dengan pedoman orientasi/pelatihan yang berlaku. Materi orientasi/pelatihan mencakup kegiatan yang akan dilaksanakan di desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga (sebagaimana telah dirumuskan dalam Rencana Operasional). Yaitu antara lain pengelolaan Desa Siaga secara umum, pembangunan dan pengelolaan pelayanan kesehatan dasar seperti Poskesdes (jika diperlukan). pengelolaan UKBM. Serta hal-hal lain seperti kehamilan dan persalinan sehat, Siap-Antar-Jaga, Keluarga Sadar Gizi. posyandu, kesehatan lingkungan, pencegahan penyakit menular, penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman (PAB-PLP). kegawatdaruratan sehari-hari, kesiapsiagaan bencana. kejadian luar biasa, warung obat desa (WOD), diversifikasi pertanian tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangan melalui Taman Obat Keluarga (TOGA), kegiatan surveilans, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan Iain-Iain.
3)   Pengembangan Pelayanan Kesehatan Dasar dan UKBM
Dalam hal ini, pembangunan Poskesdes (jika diperlukan) bisa di-kembangkan dari UKBM yang sudah ada, khususnya Polindes. Apabila tidak ada Polindes, maka perlu dibahas dan dicantumkan dalam rencana kerja pembangunan Poskesdes. Dengan demikian sudah diketahui bagaimana pelayanan kesehatan dasar tersebut akan diadakan–membangun baru dengan fasilitas dari Pemerintah, membangun baru dengan bantuan dari donatur, membangun baru dengan swadaya masyarakat, mengembangkan bangunan Polindes yang ada, atau memodifikasi bangunan lain yang ada. Bilamana Poskesdes sudah berhasil diselenggarakan, kegiatan dilanjutkan dengan membentuk UKBM-UKBM yang diperlukan dan belum ada di desa yang bersangkutan, atau merevitalisasi yang sudah ada tetapi kurang/tidak aktif.
4)   Penyelenggaraan Kegiatan Desa Siaga
Dengan telah adanya pelayanan kesehatan dasar dan UKBM yang diperlukan, maka desa yang bersangkutan telah dapat ditetapkan sebagai Desa Siaga Pratama. Setelah Desa Siaga resmi dibentuk. dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan Desa Siaga secara rutin sesuai dengan kriteria Desa Siaga, yaitu pengembangan sistem surveilans berbasis masyarakat, pengembangan kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana, penggalangan dana. pemberdayaan masyarakat menuju kadarzi, serta penyehatan lingkungan. Pelayanan kesehatan dasar melalui Poskesdes (bila ada) dan pelayanan UKBM seperti Posyandu dan Iain-Iain digiatkan dengan berpedoman kepada panduan yang berlaku.
Kegiatan-kegiatan di Desa Siaga utamanya dilakukan oleh kader kesehatan yang dibantu tenaga kesehatan profesional (bidan, perawat, tenaga gizi, dan sanitarian). Secara berkala kegiatan Desa Siaga dibimbing dan dipantau oleh Puskesmas, yang hasilnya dipakai sebagai masukan untuk perencanaan dan pengembangan Desa Siaga selanjutnya secara lintas sektoral.
5)   Pembinaan dan peningkatan
Mengingat permasalahan kesehatan sangat dipengaruhi oleh kinerja sektor lain, serta adanya keterbatasan sumberdaya, maka untuk memajukan Desa Siaga perlu adanya pengembangan jejaring kerjasama dengan berbagai pihak. Perwujudan dari pengembangan jejaring Desa Siaga dapat dilakukan melalui Temu Jejaring UKBM secara internal di dalam desa sendiri atau Temu Jejaring antar Desa Siaga (minimal sekali dalam setahun). Upaya ini selain untuk memantapkan kerjasama, juga diharapkan dapat menyediakan wahana tukar-menukar pengalaman dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bersama.
Yang juga tidak kalah pentingnya adalah pembinaan jejaring lintas sektor, khususnya dengan program-program pembangunan. yang bersasaran Desa.
Salah satu kunci keberhasilan dan kelestarian Desa Siaga adalah keaktifan para kader. Oleh karena itu, dalam rangka pembinaan perlu dikembangkan upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan para kader agar tidak drop out. Kader-kader yang memiliki motivasi memuaskan kebutuhan sosial-psikologisnya harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kreativitasnya. Sedangkan kader-kader yang masih dibebani dengan pemenuhan kebutuhan dasarnya harus dibantu untuk memperoleh pendapatan tambahan, misalnya dengan pemberian gaji/insentif atau difasilitasi agar dapat berwirausaha.
Untuk dapat melihat perkembangan Desa Siaga. perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi. Berkaitan dengan itu, kegiatan-kegiatan di Desa Siaga perlu dicatat oleh kader, misalnya dalam Buku Register UKBM (contohnya: kegiatan Posyandu dicatat dalam buku Registrasi Ibu dan Anak Tingkat Desa atau RIAD dalam Sistem Informasi Posyandu).

F.   Indikator Keberhasilan Desa Siaga
Keberhasilan upaya Pengembangan Desa Siaga dapat dilihat dari empat kelompok indikatornya, yaitu: (1) indikator masukan, (2) indikator proses, (3) indikator keluaran, dan (4) indikator dampak.
a.    Indikator Masukan
Indikator masukan adalah indikator untuk mengukur seberapa besar masukan telah diberikan dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator masukan terdiri atas hal-hal berikut.
1)    Ada atau tidaknya Forum Masyarakat Desa
2)    Ada atau tidaknya sarana pelayanan kesehatan dasar (bagi desa yang tidak memiliki akses Puskesmas/Pustu: Ada/tidaknya Poskesdes dan sarana bangunannya).
3)    Ada atau  tidaknya UKBM yang dibubuhkan masyarakat
4)   Ada atau tidaknya tenaga kesehatan (minimal 1 bidan)
5)    Ada atau tidaknya dana untuk kesehatan masyarakat desa.
b.    Indikator Proses
Indikator proses adalah indikator untuk mengukur seberapa aktif upaya yang dilaksanakan di suatu Desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator proses terdiri atas hal-hal berikut.
1)    Frekuensi pertemuan Forum Masyarakat Desa.
2)    Berfungsi atau tidaknya pelayanan kesehatan dasar/Poskesdes.
3)    Berfungsi atau tidaknya UKBM yang ada.
4)    Berfungsi atau tidaknya Sistem Kegawatdaruratan dan Penanggulangan Kegawatdaruratan dan Bencana.
5)    Berfungsi atau tidaknya Sistem Surveilans berbasis masyarakat.
6)    Ada atau tidaknya kegiatan promosi kesehatan untuk kadarzi dan PHBS.
c.    Indikator Keluaran
Indikator Keluaran adalah indikator untuk mengukur seberapa besar hasil kegiatan yang dicapai di suatu Desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator keluaran terdiri alas hal-hal berikut.
1)    Cakupan pelayanan kesehatan dasar/Poskesdes
2)    Cakupan pelayanan UKBM.
3)    Jumlah kasus kegawatdaruratan dan KLB yang dilaporkan
4)    Cakupan rumah tangga yang memperoleh penyuluhan kadarzi dan PHBS
d.   Indikator Dampak
Indikator dampak  adalah indikator untuk mengukur seberapa besar dampak dari hasil kegiatan di desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator proses terdiri atas hal-hal berikut:
1)    Jumlah Penduduk yang menderita sakit
2)    Jumlah penduduk yang menderita gangguan jiwa
3)    Jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia
4)    Jumlah bayi dan balita yang meninggi dunia
5)    Jumlah balita dengan gizi buruk.

III.             IMUNISASI DASAR

1.      Defenisi
Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal pada bayi yang baru lahir sampai usia satu tahun untuk mencapai kadar kekebalan diatas ambang perlindungan. (Depkes RI, 2005).
Imunisasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit serius yang paling efektif untuk bayi dari segi biaya (Wahab, 2000).
2.      Tujuan
Tujuan umum :
Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Penyakit dimaksud antara lain, Difteri, Tetanus, Pertusis (batuk rejam), Measles (campak), Polio dan Tuberculosis.
Tujuan khusus :
·         Tercapainya target Universal Child Immunization (UCI), yaitu cakupan imunisasi lengkap minimal 80% secara merata pada bayi di 100% desa Kelurahan pada tahun 2010.
·         Tercapainya ERAPO (Eradiksi Polio), yaitu tidak adanya virus polio liar di Indonesia yang dibuktikan dengan tidak ditemukannya virus polio liar pada tahun 2008.
·         Tercapainya ETN (Eliminasi Tetanus Neonatorum), artinya menurunkan kasus TN sampai tingkat 1 per 1000 kelahiran hidup dalam 1 tahun pada tahun 2008.
·         Tercapainya RECAM (Reduksi Campak), artinya angka kesakitan campak turun pada tahun 2006.
3.      Sasaran program imunisasi :
·         Mencakup bayi usia 0-1 tahun untuk mendapatkan vaksinasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis-B.
·         Mencakup ibu hamil dan wanita usia subur dan calon pengantin (catin) untuk mendapatkan imunisasi TT.
·         Mencakup anak-anak SD (Sekolah Dasar) kelas 1, untuk mendapatkan imunisasi DPT.
·         Mencakup anak-anak SD (Sekolah Dasar) kelas II s/d kelas VI untuk mendapatkan imunisasi TT (dimulai tahun 2001 s/d tahun 2003), anak-anak SD kelas II dan kelas III mendapatkan vaksinasi TT (Depkes RI, 2005).
4.      Jenis-jenis imunisasi
·         Imunisasi Aktif
Imunisasi aktif adalah tubuh anak sendiri membuat zat anti yang akan bertahan selama bertahun-tahun (A.H Markum, 2002). Adapun tipe vaksin yang dibuat “hidup dan mati”. Vaksin yang hidup mengandung bakteri atau virus (germ) yang tidak berbahaya, tetapi dapat menginfeksi tubuh dan merangsang pembentukan antibodi. Vaksin yang mati dibuat dari bakteri atau virus, atau dari bahan toksit yang dihasilkannya yang dibuat tidak berbahaya dan disebut toxoid. (A.H Markum, 2002). Imunisasi dasar yang dapat diberikan yaitu BCG untuk mencegah penyakit TBC ; DPT untuk mencegah penyakit-penyakit difteri, pertusis dan tetanus ; Polio untuk mencegah penyakit poliomilitis ; Campak untuk mencegah penyakit campak (measles) ; Hepatitis B, untuk mencegah penyakit hepatitis.
·         Imunisasi Pasif
Imunisasi pasif adalah pemberian antibodi kepada resipien, dimaksudkan untuk memberikan imunitas secara langsung tanpa harus memproduksi sendiri zat aktif tersebut untuk kekebalan tubuhnya. Antibodi yang diberikan ditujukan untuk upaya pencegahan atau pengobatan terhadap infeksi, baik untuk infeksi bakteri maupun virus (Satgas IDAI, 2008). Imunisasi pasif dapat terjadi secara alami saat ibu hamil memberikan antibodi tertentu ke janinnya melalui plasenta, terjadi di akhir trimester pertama kehamilan dan jenis antibodi yang ditransfer melalui plasenta adalah immunoglobulin G (LgG). Transfer imunitas alami dapat terjadi dari ibu ke bayi melalui kolostrum (ASI), jenis yang ditransfer adalah immunoglobulin A (LgA). Sedangkan transfer imunitas pasif secara didapat terjadi saat seseorang menerima plasma atau serum yang mengandung antibodi tertentu untuk menunjang kekebalan tubuhnya.
Kekebalan yang diperoleh dengan imunisasi pasif tidak berlangsung lama, sebab kadar zat-zat anti yang meningkat dalam tubuh anak bukan sebagai hasil produksi tubuh sendiri, melainkan secara pasif diperoleh karena pemberian dari luar tubuh. Salah satu contoh imunisasi pasif adalah Inmunoglobulin yang dapat mencegah anak dari penyakit campak (measles). (AH, Markum, 2002).
·         Jenis-Jenis Vaksin Imunisasi Dasar Dalam Program Imunisasi
ü  Vaksin BCG ( Bacillius Calmette Guerine )
Diberikan pada umur sebelum 3 bulan. Namun untuk mencapai cakupan yang lebih luas, Departemen Kesehatan Menganjurkan pemberian BCG pada umur antara 0-12 bulan.
ü  Hepatitis B
Diberikan segera setelah lahir, mengingat vaksinasi hepatitis B merupakan upaya pencegahan yang sangat efektif untuk memutuskan rantai penularan melalui transmisi maternal dari ibu pada bayinya.
ü  DPT (Dhifteri Pertusis Tetanus)
Diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan ( DPT tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu ) dengan interval 4-8 minggu.
ü  Polio
Diberikan segera setelah lahir sesuai dengan pedoman program pengembangan imunisasi ( PPI ) sebagai tambahan untuk mendapatkan cakupan yang tinggi.
ü  Campak
Rutin dianjurkan dalam satu dosis 0,5 ml secara sub-kutan dalam, pada umur 9 bulan.

5.      Efek samping imunisasi
·         BCG
Setelah 4-6 minggu di tempat bekas suntikan akan timbul bisul kecil yangakan mengempis sendiri dan terkadang seperti koreng. Reaksi inimerupakan normal. Namun jika koreng membesar dan timbul kelenjar  pada ketiak atau lipatan paha, sebaiknya anak segera dibawa kembali kedokter ), Ini dapat merupakan pertanda si anak pernah terinfeksi TBsehingga menimbulkan reaksi berlebih setelah divaksin. Untuk mengatasi pembengkakan, kompres bekas suntikan dengan cairan antiseptic
·         DPT
Reaksi lokal yang mungkin timbul adalah rasa nyeri, merah dan bengkak selama satu-dua hari di bekas suntikan. Untuk mengatasinya beri kompreshangat. Sedangkan reaksi umumnya antara lain demam dan agak rewel.Berikan si kecil obat penurun panas dan banyak minum ASI.Kini sudah ada vaksin DPT yang tidak menimbulkan reaksi apapun, baik lokal maupun umum, yakni vaksin DtaP (diphtheria, tetanus, acellullar  pertussis), sayangnya hariga vaksin ini jauh lebih mahal dari vaksin DPT
·         Polio
Bila anak sedang diare ada kemungkinan vaksin tidak bekerja dengan baik karena ada gangguan penyerapan vaksin oleh usus akibat diare berat
·         Campak 
5-12 hari setelah anak mendapat imunisasi campak, biasanya anak akandemam dan timbul bintik merah halus di kulit. Para ibu tidak perlumengkhawatirkan reaksi ini karena ini sangat normal dan akan hilang. 
IV.             GERAKAN SAYANG IBU (GSI)
Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah suatu gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat bekerjasama dengan pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan, dan nifas serta penurunan angka kematian bayi. Terdapat tiga unsur pokok GSI, yaitu:
1.      Gerakan Sayang Ibu merupakan gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat bersama dengan pemerintah
2.      Gerakan Sayang Ibu mempunyai tujuan untuk meningkatkan dan perbaikan kualitas hidup perempuan sebagai sumber daya manusia
3.      Gerakan Sayang Ibu bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan, dan nifas

Gerakan Sayang Ibu perlu dilakukan karena:
·         SDM yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan suatu pembangunan
·         Pembentukan kualitas SDM yang berkualitas ditentukan dari janin dalam kandungan karena perkembangan otak terjadi selama hamil sampai dengan 5 tahun
·         Kesehatan Ibu dan Anak faktor paling strategis untuk meningkatkan mutu SDM
·         Angka Kematian Ibu (AKI) karena hamil, bersalin, dan nifas di Indonesia tergolong tinggi diantara negara-negara ASEAN
·         Tingginya AKI dan AKB di Indonesia memberikan dampak negative pada berbagai aspek
·         Kematian ibu menyebabkan bayi menjadi piatu yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kualtas SDm akibatnya kurangnya perhatian, bimbingan, dan kasih saying seorang ibu

Dasar pelaksanaan GSI, antara lain:
·         Undang-Undang nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan
·         Kesepakatan Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat, Menteri Kesehatan, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada tanggal 12 Maret 2002


Maksud dan tujuan, antara lain:
  • Menyegarkan dan meningkatkan pengetahuan Satgas GSI tentang berbagai program Gerakan Sayang Ibu (GSI) dari stake holder terkait.
  • Menyegarkan dan meningkatkan pengetahuan Satgas Gerakan Sayang Ibu (GSI) tentang peran stakeholder terkait dalam Gerakan Sayang Ibu.

Sasaran Gerakan Sayang Ibu (GSI), sebagai berikut:
1.      Langsung
·         Calon Pengantin (catin)
·         Pasangan Usia Subur (PUS)
·         Ibu hamil, bersalin, dan nifas
·         Ibu meneteki masa perawatan bayi
·         Pria/suami dan seluruh anggota keluarga
2.      Tidak langsung
·         Sekotr terkait
·         Institusi kesehatan
·         Institusi masyarakat
·         Tokoh masyarakat dan agama
·         Kaum bapak/pria
·         Media massa
Ruang lingkup Gerakan Sayang Ibu, antara lain:
1.      Meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak melalui upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi
2.      Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku suami istri dan masyarakat mengenai hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi
3.      Menghilangkan hambatan-hambatan yang mempengaruhi upaya peningkatan kualitas hidup perempuan
Strategi Gerakan Sayang Ibu melalui pendekatan kemasyarakatan,dikembangkan dalam bentuk, antara lain:
1.      Desentralisasi
2.      Kemandirian
3.      Keluarga
4.      Kemitraan

Perencanaan dan pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu terdiri dari:
1.      Langkah kegiatan (jadwal kegiatan)
2.      Tenaga pelaksana
3.      Dukungan dana dan saran
4.      Monitoring dan pelaporan
5.      Evaluasi kegiatan
Pelaksanaan kegiatan Gerakan Sayang Ibu
1.      Unsur operasional
a)      Advokasi dan KIE pengembangan
b)      Pesan advokasi dan KIE GSI
c)      Pemberdayaan dalam keluarga, masyarakat, dan tempat pelayanan kesehatan
d)     Memadukan kegiatan GSI, pondok bersalin, dan posyandu
2.      Unsur pendukung
a)      Orientasi dan penelitian
b)      Pendataan, pemantauan, pemetaan bumil, bulin, bufas, dan BBL
c)      Pengembangan tata cara rujukan
d)     Mendukung upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
e)      Peningkatan peran bidan
3.      Tugas pokok satgas Gerakan Sayang Ibu meliputi:
a)      Menyusun rencana kerja serta mengumpulkan dana
b)      Advokasi kepada TOMA, TOGA, dan TOPOL
c)      Penyuluhan kepada keluarga serta bumil, bulin, bufas, dan ibu yang mempunyai bayi di masyarakat
d)     Mengumpulkan data informasi bumil, bulin, bufas, dan bayi yang dilakukan
e)      Memberikan tanda pada bumil berisiko tinggi
f)       Membantu merujuk
4.      Memantau dan keberhasilan Gerakan Sayang IBu (GSI. Beberapa hal yang pelru dipantau, antara lain:
a)      Sektoral terkait berperan aktif dalam kegiatan operasional
b)      Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
c)      Kecamatan dan kelurahan dapat melakukan kegiatan KIE dengan baik
d)     Kecamatan dan kelurahan dapat melakukan rujukan dengan baik

Indikator keberhasilan sebelum dan sesudah GSI
a)      Semakin dan mantapnya peranan organisasi masyarakat GSI
b)      Semakin meningkat dan mantapnya pengetahuan dan pemahaman mengenai GSI
c)      Setinggi mungkin sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga
d)     Ibu hamil semakin mengenali masalah kehamilan
Hambatan-hambatan dalam GSI:
1.      Secara struktural
Berbagai program tersebut masih sangat birokratis sehingga orientasi yang terbentuk semata-mata dilaksanakan karena ia adalah program wajib yang harus dilaksanakan berdasarkan SK (Surat Keputusan)
2.      Secara kultural
Masih kuatnya anggapan/pandangan masyarakat bahwa kehamilan dan persalinan hanyalah persoalan wanita
  V.                SAFE MOTHERHOOD
Safe Motherhood merupakan upaya untuk menyelamatkan wanita agar kehamilan dan persalinannya sehat dan aman, serta melahirkan bayi yang sehat. Tujuan upaya Safe Motherhood adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil, bersalin, nifas, dan menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. Upaya ini terutama ditunjukan pada negara yang sedang berkembang karena 99% kematian ibu di dunia terjadi di negara-negara tersebut. Di Indonesia telah dilaksanakan pada tahun 1988, melibatkan sector pemerintah dan non-pemerintah, masyarakat,serta dukungan dari badan internasional.
Rincian tujuan/sasaran safe motherhood, antara lain:
1.      Meningkatkan mutu dari, dan akses ke, pelayanan kesehatan
2.      Mendukung jangkauan dan kapasitas tenaga kesehatan di desa
3.      Memberdayakan masyarakat untuk mengenali kesulitan-kesulitan selama masa kehamilan dan persalinan
4.      Mmperkuat kapasitas pemeintah daerah dalam merencanakan, melaksanakan, mengelola, dan mengawasi program persalinan yang aman
WHO mengembangkan konsep Four Pillars of Safe Motherhood untuk menggambarkan ruang lingkup upaya penyelamatan ibu dan bayi (WHO, 1994). Empat pilar upaya safe motherhood tersebut adalah keluarga berencana, asuhan antenatal, persalinan bersih dan aman, dan pelayanan obstetri esensial.
1.      Keluarga Berencana
Konseling dan pelayanan keluarga berencana harus tersedia untuk semua pasangan dan individu. Dengan demikan, pelayanan keluarga berencana harus menyediakan informasi dan konseling yang lengkap dan juga pilihan metode kontrasepsi yang memadai, termasuk kontrasepsi darurat. Pelayanan ini harus merupakan bagian dari program komprehensif pelayanan kesehatan reproduksi. Program keluarga berencana memiliki peranan dalam menurunkan risiko kematian ibu melalui pencegahan kehamilan, penundaan usia kehamilan, dan menjarangkan kehamilan.
2.      Asuhan Antenatal
Pelayanan antenatal sangat penting untuk mendeteksi lebih dini komplikasi kehamilan. Selain itu, juga menjadi sarana edukasi bagi perempuan tentang kehamilan. Dalam masa kehamilan:
a)      Petugas kesehatan harus memberi pendidikan pada ibu hamil tentang cara menjaga diri agar tetap sehat dalam masa tersebut.
b)      Membantu wanita hamil serta keluarganya untuk mempersiapkan kelahiran bayi.
c)      Meningkatkan kesadaran mereka tentang kemungkinan adanya risiko tinggi atau terjadinya komplikasi dalam kehamilan/persalinan dan cara mengenali komplikasi tersebut secara dini. Petugas kesehatan diharapkan mampu mengindentifikasi dan melakukan penanganan risiko tinggi/komplikasi secara dini serta meningkatkan status kesehatan wanita hamil.
3.      Persalinan Bersih dan Aman
Persalinan yang aman bertujuan untuk memastikan setiap penolong kelahiran/persalinan mempunyai kemampuan, ketrampilan, dan alat untuk memberikan pertolongan yang bersih dan aman, serta memberikan pelayanan nifas pada ibu dan bayi. Dalam persalinan:
a)      Wanita harus ditolong oleh tenaga kesehatan profesional yang memahami cara menolong persalinan secara bersih dan aman.
b)      Tenaga kesehatan juga harus mampu mengenali secara dini gejala dan tanda komplikasi persalinan serta mampu melakukan penatalaksanaan dasar terhadap gejala dan tanda tersebut.
c)      Tenaga kesehatan harus siap untuk melakukan rujukan komplikasi persalinan yang tidak dapat diatasi ke tingkat pelayanan yang lebih mampu.
4.      Pelayanan Obstetri Esensial
Pelayanan obstetri esensial bagi ibu yang mengalami kehamilan risiko tinggi atau komplikasi diupayakan agar berada dalam jangkauan setiap ibu hamil. Pelayanan obstetri esensial meliputi kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan ‘untuk melakukan tindakan dalam mengatasi risiko tinggi dan komplikasi kehamilan/persalinan. Secara keseluruhan, keempat tonggak tersebut merupakan bagian dari pelayanan kesehatan primer. Dua di antaranya, yaitu asuhan antenatal dan persalinan bersih dan aman, merupakan bagian dari pelayanan kebidanan dasar. Sebagai dasar/fondasi yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan upaya ini adalah pemberdayaan wanita.
Oleh karena itu, diperlukan strategi berbasis masyarakat yang meliputi:
a)      Melibatkan anggota masyarakat, khususnya wanita dan pelaksanaan pelayanan setempat, dalam upaya memperbaiki kesehatan ibu.
b)      Bekerjasama dengan masyarakat, wanita, keluarga, dan dukun untuk mengubah sikap terhadap keterlambatan mendapat pertolongan.
c)      Menyediakan pendidikan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang komplikasi obstetri serta kapan dan di mana mencari pertolongan.
Puskesmas telah dikenal masyarakat sebagai tempat memperoleh layanan kesehatan secara umum yang murah, sederhana, dan mudah terjangkau terutama bagi kalangan kurang mampu. Sejak pertama kali dicetuskan, puskesmas ditargetkan menjadi unit pelaksana teknis pelayanan tingkat pertama/terdepan dalam sistem kesehatan nasional. Maka dari itu, puskesmas juga menjadi salah satu mata rantai pelayanan kesehatan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu melalui program-programnya yang mengacu pada empat pilar Safe Motherhood.
Dalam pilar pelayanan obstetri esensial, puskesmas menekankan kebijakan berupa:
  1. Memberikan pelayanan kesehatan untuk semua macam penyakit obstetri
  2. Khusus untuk obstetri harus mampu melakukan:
·         Pelayanan obstetri esensial darurat (POED)
ü  melakukan pertolongan persalinan sungsang
ü  melakukan pertolongan persalinan vakum ekstraksi
ü  melakukan plasenta manual
ü  memasang infus dan memberikan obat parenteral
ü  meneruskan sistem rujukan bila fasilitas tidak memadai
·         Pelayanan Obstetri dan Neonatus Esensial Darurat (PONED)
ü  merupakan pelayanan PONED ditambah dengan melakukan pelayanan neonatus yang mengalami asfiksia ringan, sedang, dan berat. Bila tidak memungkinkan, segera melakukan rujukan.
·         Melaksanakan konsep sayang ibu dan sayang bayi.

VI.             MAKE PREGNANCY SAFER (MPS)
Indonesia telah mencanangkan making pregnancy safer (MPS) sebagai strategi pembangunan kesehatan masyarakat menuju Indonesia Sehat 2010 pada 12 Oktober 2000 sebagai bagian dari program safe motherhood.
Dalam arti kata luas tujuan safe motherhood dan making pregnancy safer sama, yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
MPS merupakan strategi sektor kesehatan yang fokus pada pendekatan perencanaan sistematis dan terpadu dalam melaksanakan intervensi klinis dan pelayanan kesehatan. MPS dilaksanakan berdasarkan upaya-upaya yang telah ada dengan penekanan pada pentingnya kemitraan antara sektor pemerintah, lembaga pembangunan, sektor swasta, keluarga dan anggota masyarakat.
Melalui MPS diharapkan seluruh pejabat yang berwenang, mitra pembangunan dan pihak-pihak lain yang terlibat lainnya untuk melaksanakan upaya bersama dalam meningkatkan kemampuan pelayanan kesehatan guna menjamin pelaksanaan dan pemanfaatan intervensi yang efektif berdasarkan bukti ilmiah (evidence based). Perhatian difokuskan pada kegiatan-kegiatan berbasis masyarakat yang menjamin agar ibu dan bayi baru lahir mempunyai akses terhadap pelayanan yang mereka butuhkan bilamana diperlukan, dengan penekanan khusus pada pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang terampil pada saat melahirkan serta pelayanan yang tepat dan berkesinambungan.
Strategi MPS mendukung target internasional yang telah disepakati. Dengan demikian, tujuan global MPS adalah untuk menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir sebagai berikut:
1.      Menurunkan angka kematian ibu sebesar 75% pada tahun 2015 dari AKI tahun 1990.
2.      Menurunkan angka kematian bayi menjadi kurang dari 35/1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.
Berdasarkan lesson learned dari upaya Safe Motherhood, maka pesan-pesan kunci MPS adalah:
1.      Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih.
2.      Setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat.
3.      Setiap perempuan usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.
Dalam konteks Rencana Pembangunan Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, visi MPS adalah:
“Semua perempuan di Indonesia dapat menjalani kehamilan dan persalinan dengan aman dan bayi dilahirkan hidup dan sehat.”
Misi MPS adalah menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir melalui pemantapan sistem kesehatan untuk menjamin akses terhadap intervensi yang cost effective berdasarkan bukti ilmiah yang berkualitas, memberdayakan perempuan, keluarga dan masyarakat mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang lestari sebagai suatu prioritas dalam program pembangunan nasional.
Tujuan MPS adalah menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia. Target yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah sebagai berikut:
1.      Target dampak kesehatana. Menurunkan AKI menjadi 125/100.000 kelahiran hidup
2.      Menurunkan angka kematian neonatal menjadi 15/1.000 kelahiran hidup
3.      Menurunkan anemia gizi besi pada ibu hamil menjadi 20%
4.      Menurunkan angka kehamilan yang tidak diinginkan dari 17,1% menjadi 11%.

4 strategi utama tersebut adalah:
1.      Meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir berkualitas yang cost-effective dan berdasarkan bukti.
2.      Membangun kemitraan yang efektif melalui kerjasama lintas program, lintas sektor dan mitra lainnya untuk melakukan advokasi guna memaksimalkan sumber daya yang tersedia serta meningkatkan koordinasi perencanaan dan kegiatan MPS.
3.      Mendorong pemberdayaan perempuan dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan untuk menjamin perilaku sehat dan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.
4.      Mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjamin penyediaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.
 
VII.          HEALTHY MOTHER HEALTHY BABY (HMHB)
1.      Definisi
Program HMHB atau Ibu Sehat, Bayi Sehat merupakan program untuk mengurangi beban penyakit kronis dengan mengatasi perilaku resiko maternal dan memberikan dukungan selama kehamilan.
Program ini ditujukan kepada ibu hamil yang tidak dapat mengakses layanan perawatan antenatal atau membutuhkan dukungan tambahan karena status sosial ekonomi mereka, budaya dan bahasa yang beragam.

2.      Sasaran
Fokus dari Ibu Sehat, Bayi Sehat Program adalah untuk mendukung wanita yang sedang hamil, dengan memberikan dukungan, hubungan dan pendidikan. Ini bukan layanan perawatan klinis antenatal. Kegiatan program melengkapi layanan yang sudah ada dengan menghubungkan perempuan ke pelayanan awal, memberikan tambahan berdasarkan dukungan masyarakat yang berada di luar kapasitas pelayanan saat ini, dan mempromosikan sebuah kontinum perawatan untuk wanita melalui kerjasama yang kuat dengan bersalin dan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

3.      Tujuan
Tujuan menyeluruh dari HMHB adalah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan bayi. Tujuan khusus adalah untuk:
a.       Memberikan bantuan kepada ibu untuk mengakses kesehatan antenatal, postnatal dan lainnya
b.      Memberi dukungan pada ibu selama masa kehamilan
c.       Mengurangi kejadian berat badan lahir bayi rendah dan mendorong pertumbuhan yang optimal selama tahun pertama kehidupan bayi dan seterusnya.
d.      Menyampaikan pesan promosi kesehatan yang akan mendukung perilaku sehat pada kehamilan dan seterusnya.
Model perawatan untuk program ini dapat ditemukan dalam pedoman program di bagian sumber daya.


VIII.       KANGAROO MOTHER CARE (KMC)
Metode kangaroo mother care (KMC) atau dikenal juga sebagai metode kanguru atau perawatan bayi lekat pertama kali dilakukan oleh dokter Rey dan Martinez di Bogota, Kolombia, pada tahun 1979. Awal dicetuskan metode ini karena begitu banyaknya bayi dengan berat lahir rendah, keterbatasan tenaga dan fasilitas kesehatan, serta tingginya angka mortalitas di rumah sakit karena infeksi.
Metode ini terus berkembang dan mengalami modifikasi yang pada prinsipnya terdiri dari empat komponen, yaitu kangaroo position, kangaroo nutrition, kangaroo support, dan kangaroo discharge. Kangaroo position yaitu bayi dalam keadaan telanjang, hanya mengenakan popok, topi hangat dan kaus kaki diletakkan di antara payudara ibu. Dalam posisi demikian tubuh ibu dan bayi diikat dengan kain selimut atau kain berbahan elastis untuk menahan badan bayi agar tidak Jatuh. Prinsipnya adalah semakin luas kulit bayi yang bersentuhan dengan kulit ibu semakin baik.
Selama bayi berada dalam dekapan ibu, pemantauan suhu ketiak bayi perlu dilakukan setiap enam jam selama tiga hari pertama metode kanguru dimulai. Selanjutnya pengukuran dilakukan dua kali sehari. Selain suhu, ibu perlu memantau pemapasan bayi. Pernapasan normal bayi prematur berkisar 40-60 kali per menit dan kadang dapat disertai periode apnu (tidak bernapas). Kangaroo nutrition, dengan metode kanguru banyak ibu berhasil menyusul bayinya. Bayi-bayi prematur dengan usia gestasi lebih muda dapat memulai proses breastfeeding. Selain itu, metode ini dapat meningkatkan volume ASI. Kangaroo support, metode kanguru ini memerlukan dukungan semua pihak, baik ibu, seluruh keluarga, tenaga medis, maupun komunitas. Kangaroo discharge, bayi-bayi berat lahir rendah ini dapat lebih cepat pulang ke rumah dengan metode kanguru ini, karena metode kanguru ini tidak hanya bisa dilaksanakan di rumah sakit, tetapi juga dapat diterapkan di rumah.
 Metode kanguru ini dinilai memberi banyak keuntungan, baik bagi ibu, ayah, bayinya sendiri, maupun bagi tenaga medis. Ibu merasa lebih percaya diri, tingkat stress menurun, merasabersemangat berpartisi dalam merawat bayinya, memberi ASI. serta mengurangi rasa penolakan dan kekecewaan Ibu. Ayah dapat pula ikut turut berperan serta dalam perawatan bayinya serta meningkatkan ikatan batin antara ayah dan bayinya. Sedangkan bagi bayinya sendiri, metode kanguru ini dapat membuat bayi lebih hangat dan stabil, pertumbuhan lebih cepat, angka terjadinya infeksi menurun. Bagi tenaga medis, metode kanguru ini akan menurunkan jumlah kebutuhan akan tenaga medis dan peralatan, bayi dapat lebih cepat keluar dari rumah sakit, serta lebih murah.
Metode kanguru atau perawatan bayi lekat ditemukan sejak tahun 1983, sangat bermanfaat untuk merawat bayi yang lahir dengan berat badan rendah baik selama perawatan di rumah sakit ataupun di rumah.  Metode kanguru mampu memenuhi kebutuhan asasi bayi berat lahir rendah dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip dengan rahim ibu, sehinggga memberi peluang untuk dapat beradaptasi baik dengan dunia luar.  
Keuntungan yang di dapat dari metode kanguru bagi perawatan bayi:
1.      Meningkatkan hubungan emosi ibu anak
2.      Menstabilkan suhu tubuh, denyut jantung, dan pernafasan bayi
3.      Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan bayi dengan lebih baik
4.      Mengurangi strea pada ibu dan bayi
5.      Mengurangi lama menangis pada bayi
6.      Memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi
7.      Meningkatkan produksi asi
8.      Menurunkan resiko terinfeksi selama perawatan di rumah sakit
9.      Mempersingkat masa rawat di rumah sakit
Apa saja kriteria bayi untuk metode kanguru:
1.      Bayi dengan berat badan ≤ 2000 g
2.      Tidak ada kelainan atau penyakit yang menyertai
3.      Refleks dan kordinasi isap dan menelan yang baik
4.      Perkembangan selama di inkubator baik
5.      Kesiapan dan keikut sertaan orang tua, sangat mendukung dalam keberhasilan.  
Cara melakukan metode kanguru:
1.      Beri bayi pakaian, topi, popok dan kaus kaki yang telah dihangatkan lebih dahulu
2.      Letakkan bayi di dada ibu, dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan pastikan kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan bayi dengan siku dan tungkai tertekuk, kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepala agak sedikit mendongak
3.      Dapat pula memeakai baju dengan ukuran lebih besar dari badan ibu, dan bayi diletakkan diantara payudara ibu, baju ditangkupkan, kemudian ibu memakai selendang yang dililitkan di perut ibu agar bayi tidak terjatuh
4.      Bila baju ibu tidak dapat menyokong bayi, dapat digunakan handuk atau kain lebar yang elastik atau kantong yang dibuat sedemikian untuk menjaga tubuh bayi
5.      Ibu dapat beraktivitas dengan bebas, dapat bebas bergerak walau berdiri, duduk, jalan, makan dan mengobrol. Pada waktu tidur, posisi ibu setengah duduk atau dengan jalan meletakkan beberapa bantal di belakang punggung ibu
6.      Bila ibu perlu istirahat, dapat digantikan oleh ayah atau orang lain
7.      Dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan persiapan ibu dan bayi, posisi bayi, pemantauan bayi, cara pamberian ASI, serta kebersihan ibu dan bayi.
  
IX.             INISIASI MENYUSU DINI (IMD)
Pembangunan sumber daya manusia tidak terlepas dan upaya kesehatan khususnya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi, karena itu pembangunan sumber daya manusia harus dimulai sejak dini yakni pada saat janin masih dalam kandungan dan awal pertumbuhannya. Dengan demikian, maka kesehatan bayi baru lahir kurang dari satu bulan (neonatal) menjadi sangat penting karena akan menentukan apakah generasi kita yang akan datang dalam keadaan sehat dan berkualitas serta mampu menghadapi tantangan globalisasi (Depkes, 2004).
Kenyataan yang hampir terjadi di semua negara di dunia, kesehatan bayi cenderung kurang mendapat perhatian dibanding umur-umur lainnya. Data WHO (2002) menunjukan angka memprihatinkan yang dikenal dengan fenomena 2/3 yaitu kematian bayi (umur 0-1 tahun) terjadi pada masa neonatal (bayi baru lahir 0-28 hari). Kematian pada neonatal dini terjadi pada hari pertama. Oleh karena itu, pemberian ASI dan menyusu satu jam pertama kehidupan yang dikenal dengan IMD dan dilanjutkan dengan menyusui esklusif 6 bulan dapat mencegah kematian bayi. Jika hal tersebut dilakukan, bayi akan mendapatkan zat-zat yang penting dan terhindar dari berbagai penyakit berbahaya pada masa paling rentan dalam kehidupannya (Asqyaluddin, 2007).
Inisiasi Menyusu Dini atau disingkat sebagai IMD merupakan program yang sedang gencar dianjurkan pemerintah. Menyusu dan bukan menyusui merupakan gambaran bahwa Inisiasi Menyusu Dini (IMD) bukan program ibu menyusui bayi tetapi bayi yang harus aktif menemukan sendiri puting susu ibu. Program ini dilakukan dengan cara langsung meletakkan bayi yang baru lahir di dada ibunya dan membiarkan bayi ini merayap untuk menemukan puting susu ibu untuk menyusu. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) harus dilakukan langsung saat lahir, tanpa boleh ditunda dengan kegiatan menimbang atau mengukur bayi. Bayi juga tidak boleh dibersihkan, hanya dikeringkan kecuali tangannya. Proses ini harus berlangsung skin to skin antara bayi dan ibu (http://info keluarga com).
Inisiasi menyusu dini sudah mulai disadari oleh beberapa Negara sejak tahun 1987 seperti Swedia, Firlandia, Austria, hal ini berlanjut sampai tahun 1990 namun Inisiasi Menyusu Dini masih belum begitu berkesan. Satu setengah tahun yang lalu, tepatnya 30 maret 2006, Dr. Karen melakukan penelitian terhadap 10.947 bayi, ternyata inisiasi menyusu dini berhasil menurunkan angka kematian bayi dibawah 28 hari (Friska, 2007).
Sedangkan di Indonesia, hanya 4% bayi disusui ibunya dalam waktu 1 jam pertama setelah kelahiran dan 8% ibu memberi ASI esklusif terhadap bayinya sampai 6 bulan. Padahal, diperkirakan sekitar 30.000 kematian bayi baru lahir (usia 28 hari) dapat dicegah melalui inisiasi menyusu dini (Amori, 2007).
Dan hasil survey tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dengan beberapa bidan yang bekerja di Puskesmas, mereka mengatakan “mengetahui tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan bagaimana melaksanakannya”. Namun, dari beberapa bidan tersebut mengatakan “jarang sekali melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), sebab dari orang tuanya sendiri tidak ingin melaksanakan karena merasa khawatir dan kasihan melihat bayinya”. Ada juga orang tua yang mengatakan “nanti saja karena masih agak takut setelah melalui masa persalinan”. Walaupun, sudah dijelaskan keuntungan dari Inisiasi Menyusu Dini (IMD) tersebut.

1.      Pengertian
Menurut Roesli Utami (2008), inisiasi menyusu dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Jadi, sebenarnya bayi manusia seperti juga bayi mamalia lain yang mempunyai kemampuan menyusu sendiri, asalkan dibiarkan kontak kulit bayi dengan ibunya, setidaknya selama satu jam segera setelah lahir. Cara bayi melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dinamakan the breast crawl atau merangkak mencari payudara sendiri.

2.      Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang dianjurkan
Menurut Roesli (2008), langkah-langkah melakukan inisiasi menyusu dini yang dianjurkan :
·      Begitu lahir, bayi diletakkan diperut ibu yang sudah dialasi kain kering.
·      Seluruh tubuh bayi dikeringkan termasuk kepala secepatnya, kecuali kedua tangarnya.
·      Tali pusat dipotong lalu diikat.
·      Vernix (zat lemak putih) yang melekat ditubuh bayi sebaiknya tidak dibersihkan terlebih dahulu karena zat ini membuat nyaman kulit bayi.
·      Tanpa dibedong, bayi langsung ditengkurapkan di dada atau diperut ibu dengan kontak kulit bayi dan kulit ibu. Ibu dan bayi diselimuti bersama-sama. Jika perlu, bayi diberi topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepalanya.

3.      Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang kurang tepat
Menurut Roesli Utami (2008), umumnya praktek inisiasi menyusu dini yang kurang tepat tetapi masih dilaksanakan adalah sebagai berikut :
·      Begitu lahir, bayi diletakkan diperut ibu yang sudah dialasi kain kering.
·      Bayi segera dikeringkan dengan kain kering tali pusat lalu dipotong dan diikat.
·      Karena takut kedinginan, bayi dibungkus (dibedong) dengan selimut bayi.
·      Dalam keadaan dibedong, bayi diletakkan didada ibu (tidak terjadi kontak kulit).
·      Setelah bayi dibedong kemudian diangkat dan disusukan pada ibu dengan cara memasukan puting susu ibu ke mulut bayi.
·      Setelah itu, bayi ditimbang, diukur, diazankan oleh ayahnya, diberi suntikan vitamin K, dan kadang-kadang diberi tetes mata.

4.      Tata laksana melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
·      Menganjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan.
·      Menyarankan untuk tidak atau mengurangi penggunaan obat kimiawi.
·      Mempersilahkan ibu untuk menentukan cara melahirkan yang diinginkannya, misalkan melahirkan normal, di dalam air, atau dengan jongkok.
·      Mengeringkan seluruh badan dan kepala bayi sebaiknya dikeringkan secepatnya, kecuali kedua tangannya.
·      Menengkurapkan bayi di dada atau di atas perut ibu, dan biarkan bayi melekat dengan kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit dipertahankan minimal satu jam setelah menyusu awal selesai dan keduanya diselimuti.
·      Membiarkan bayi sendiri mencari puting susu ibu, ibu dapat saja merangsang bayi dengan sentuhan lembut, tetapi tidak memaksakan bayi ke puting susu.
·      Memberikan dukungan pada ayah agar membantu ibu untuk mengenali tanda-tanda atau prilaku bayi sebelum menyusu.
·      Menganjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit dengan kulit pada ibu yang melahirkan dengan tindakan, misalnya operasi Caesar.
·      Memisahkan bayi dari ibu untuk ditimbang ,diukur, dan dicap setelah satu jam atau menyusu awal selesai.
·      Merawat gabung, ibu dan bayi dalam satu kamar.

Menurut Roesli (2008), dalam Inisiasi Menyusu Dini melalui 5 (lima) tahapan prilaku sebelum bayi menyusu, yakni :
·      Dalam 30 menit pertama, stadium istirahat / diam dalam keadaan siaga. Bayi diam tidak bergerak, sesekali matanya terbuka lebar melihat ibunya. Masa tenang yang istimewa ini merupakan penyesuaian peralihan dari keadaan dalam kandungan ke luar kandungan.
·      Antara 30-40 menit, mengeluarkan suara, gerakan mulut seperti mau minum, mencium, menjilat tangan. Bayi mencium dan merasakan air ketuban yang ada ditangannya. Bau dan rasa ini akan membimbing bayi untuk menemukan payudara dan putting susu ibu.
·      Mengeluarkan air liur, saat menyadari ada makanan disekitarnya bayi mulai mengeluarkan air liurnya.
·      Bayi mulai bergerak kearah payudara. Areola (kalang payudara) sebagai sasaran, dengan kaki menekan perut ibu. Ia menjilat-jilat kulit ibu, menoleh ke kanan dan ke kiri, serta menyentuh dan meremas daerah puting susu dan sekitarnya dengan tangan yang mungil.
·      Menemukan, menjilat, mengulum puting, membuka mulut lebar, dan melekat dengan baik.

5.      Tujuan Inisiasi Menyusu Dini
Menurut Affandi (2008), inisiasi menyusu dini dapat mengurangi 22 % kematian 28 hari. Sekitar 40 % kematian tiap satu bulan pertama kehidupan bayi. Inisiasi menyusu dini meningkatkan keberhasilan menyusu ekslusif dan lamanya menyusu sampai dua tahun. Dengan demikian dapat menurunkan angka kematian anak secara menyeluruh.
Menurut Roesli (2008), Inisiasi menyusu dini juga berperan dalam pencapaian Tujuan Millenium Development Goals (MDGs), yakni :
·      Membantu mengurangi kemiskinanan.
Jika seluruh bayi di Indonesia dalam setahun disusui secara eskiusif 6 bulan, berarti biaya pembelian susu formula selama 6 bulan tidak ada.
·      Membantu mengurangi kelaparan
Pemberian ASI membantu memenuhi kebutuhan makanan bayi sampai 2 tahun juga mengurangi angka kejadian kurang gizi dan pertumbuhan yang terhenti yang umumnya terjadi pada usia ini.
·      Membantu mengurangi angka kematian anak

6.      Manfaat Inisiasi Menyusu Dini
Menurut Roesli (2008) manfaat inisiasi menyusu dini adalah :
·      Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari payudara. Ini akan menurunkan kematian karena kedinginan (hypothermia).
·      Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernafasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energi.
·      Saat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan bakteri dari kulit ibunya dan ia akan menjilat-jilat kulit ibu, memakan bakteri ‘baik’ dikulit ibu. Bakteri ‘baik’ ini akan berkembang biak membentuk koloni dikulit dan usus bayi, menyaingi bakteri ‘jahat’ dari lingkungan.
·      Bonding (ikatan kasih sayang) antara ibu-bayi akan lebih baik karena pada 1-2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.
·      Memberikan pada bayi kesempatan untuk menyusu dini maka akan lebih berhasil menyusu esklusif dan akan lebih lama disusui.
·      Hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi di putting susu dan sekitarnya, emutan, dan pijatan bayi pada puting ibu akan merangsang pengeluaran hormon oksitoksin.
·      Hormon oksitoksin akan bekerja sama dengan hormon prolaktin yang akan menyebabkan otot kecil di sekeliling alveoli mengerut sehingga mengalirkan air susu ke puting, pengeluaran oksitoksin juga menyebabkan rahim berkontaksi dan membantu pengeluaran plasenta serta mengurangi perdarahan.
·      Bayi dengan Inisiasi Menyusu Dini akan mendapatkan ASI kolostrum atau ASI yang pertama kali keluar. Kolostrum atau ASI istimewa yang kaya akan daya tahan tubuh, penting untuk ketahanan terhadap infeksi, penting untuk pertumbuhan usus bayi yang masih belum matang sekaligus mematangkan dinding usus.
·      Ibu dan ayah akan merasa bahagia bertemu dengan bayinya untuk pertama kali dalam kondisi Inisiasi Menyusu Dini ini. Bahkan, ayah mendapat kesempatan mengazankan anaknya di dada ibunya. Suatu pengalaman batin bagi ketiganya yang amat indah.

 X.                ASI EKSKLUSIF
ASI adalah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi baik fisik, psikologisosial maupun spiritual. ASI mengandung nutrisi, hormon, unsur kekebalan pertumbuhan, anti alergi, serta anti inflamasi.  Keseimbangan zat-zat gizi dalam air susu ibu berada pada tingkat terbaik dan air susunya memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. Pada saat yang sama ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf.
Menurut WHO (2006), definisi ASI eksklusif adalah bahwa bayi hanya menerima ASI dari ibu, atau pengasuh yang diminta memberikan ASI dari ibu, tanpa penambahan cairan atau makanan padat lain, kecuali sirup yang berisi vitamin, suplemen mineral atau obat.
A.    Fisiologi Laktasi
ASI diproduksi atas hasil kerja gabungan antara hormon dan refleks. Ketika bayi mulai mengisap ASI, akan terjadi dua refleks yang akan menyebabkan ASI keluar. Hal ini disebut dengan refleks pembentukan atau refleks prolaktin yang dirangsang oleh hormon prolaktin dan refleks pengeluaran ASI atau disebut juga “let down” reflexs.
Produksi ASI merupakan hasil perangsangan payudara oleh hormon prolaktin. Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipofise anterior yang ada yang berada di dasar otak. Bila bayi mengisap ASI maka ASI akan dikeluarkan dari sinus laktiferus. Proses pengisapan akan merangsang ujung saraf disekitar payudara untuk membawa pesan ke kelenjar hifofise anterior untuk memproduksi hormone prolaktin. Prolaktin kemudian akan dialirkan ke kelenjar payudara untuk merangsang pembuatan ASI. Hal ini disebut dengan refleks pembentukan ASI atau refleks prolaktin.
Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian belakang kelenjar hipofisis. Hormon tersebut dihasilkan bila ujung saraf di sekitar payudara dirangsang oleh isapan. Oksitosin akan dialirkan melalui darah menuju ke payudara yang akan merangsang kontraksi otot di sekeliling alveoli (pabrik ASI) dan memeras ASI keluar dari pabrik ke gudang ASI. Hanya ASI di dalam gudang ASI yang dapat dikeluarkan oleh bayi atau ibunya.
Oksitosin dibentuk lebih cepat dibandingkan prolaktin. Keadaan ini menyebabkan ASI di payudara akan mengalir untuk diisap. Oksitosin sudah mulai bekerja saat ibu berkeinginan menyusui (sebelum bayi mengisap). Jika refleks oksitosin tidak bekerja dengan baik, maka bayi mengalami kesulitan untuk mendapatkan ASI. Payudara seolah-olah telah berhenti memproduksi ASI, padahal payudara tetap menghasilkan ASI namun tidak mengalir keluar.
B.     Produksi ASI
Berdasarkan waktu diproduksi ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
1.      Kolostrum
Kolostrum merupakan ciran yang pertama disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama sampai hari ke empat yang berbeda karakteristik fisik dan komposisinya dengan ASI matang dengan volume 150 – 300 ml/hari. Kolostrum berwarna kuning keemasan disebabkan oleh tingginya komposisi lemak dan sel-sel hidup. Kolostrum merupakan pencahar (pembersih usus bayi) yang membersihkan mekonium sehingga mukosa usus bayi yang baru lahir segera bersih dan siap menerima ASI. Hal ini menyebabkan bayi yang mendapat ASI pada minggu pertama sering defekasi dan feses berwarna hitam (Hubertin, 2003).
2.      ASI peralihan
ASI ini diproduksi pada hari ke empat sampai hari ke sepuluh. Komposisi protein semakin rendah, sedangkan lemak dan hidrat arang semakin tinggi dan jumlah volume ASI semakin meningkat. Hal in I merupakan pemenuhan terhadap aktifitas bayi yang semakin aktif karena bayi sudah beradaptasi terhadap lingkungan (Hubertin, 2003)
3.      ASI matur
ASI yang disekresi pada hari ke sepuluh sampai seterusnya. ASI matur merupakan nutrisi bayi yang terus berubah disesuaikan dengan perkembangan bayi sampai berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan, bayi mulai dikenalkan dengan makanan lain selain ASI. Dimulai dengan makanan yang lunak, kemudian padat, dan makanan biasa sesuai makanan biasa.

C.    Volume ASI
Pada minggu bulan terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai menghasilkan ASI. Apabila tidak ada kelainan, pada hari pertama sejak bayi lahir akan dapat menghasilkan 50-100 ml sehari dan jumlah akan terus bertambah sehingga mencapai 400-450 ml pada waktu mencapai usia minggu kedua. Dalam keadaan produksi ASI telah normal volume susu terbanyak yang dapat diperoleh adalah 5 menit pertama pengisapan oleh bayi biasanya berlangsung selama 15-25 menit
D.    Komposisi ASI
a.       Air
ASI mengandung sebagian besar air sebanyak 87,5 %, oleh karena itu bayi yang mendapat cukup ASI tidak perlu mendapat tambahan air walaupun berada ditempat yang suhu udara panas.
b.      Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu sumber untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir dua kali lipat dibanding laktosa yang ditemukan pada susu formula. Kadar karbohidrat dalam kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi jumlahnya meningkat terutama laktosa pada ASI transisi (7-14 hari setelah melahirkan). Setelah melewati masa ini maka kadar karbohidrat ASI relatif stabil.
c.       Protein
Kandungan protein ASI cukup tinggi. Protein dalam ASI terdiri dari protein whey yang mudah diserap oleh usus bayi dan casein yang sulit dicerna. Jumlah casein yang terdapat di dalam ASI hanya 30%.
d.      Lemak
Jenis lemak yang ada dalam ASI mengandung lemak rantai panjang yang merupakan lemak kebutuhan sel jaringan otak dan sangat mudah dicerna serta mempunyai jumlah yang cukup tinggi. Dalam bentuk Omega 3, Omega 6, DHA (Docoso Hexsaconic Acid) dan Acachidonid acid merupakan komponen penting untuk meilinasi. Asam linoleat ada di dalam ASI dalam jumlah yang cukup tinggi. Lemak ASI mudah dicerna dan diserap oleh bayi karena ASI juga mengandung enzim lipase yang mencerna lemak trigliserida menjadi digliserida, sehingga sedikit lemak yang tidak diserap oleh sistem pencernaan bayi.
e.       Mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap. Walaupun kadarnya relatif rendah tetapi cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan. Zat besi dan kalsium di dalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil dan jumlahnya tidak dipengaruhi oleh diet ibu. Garam organik yang terdapat di dalam ASI terutama adalah kalsium, kalium, sedangkan kadar Cu, Fe, dan Mn yang merupakan bahan untuk pembuat darah relatif sedikit. Ca dan P yang merupakan bahan pembentuk tulang kadarnya dalam ASI cukup.
f.       Vitamin
Vitamin yang terdapat dalam ASI adalah Vitamin K, Vitamin D, Vitamin E, Vitamin A, vitamin B, asam folat, vitamin C, vitamin B1 dan B2, vitamin B6, B12 dan asam folat. Makanan yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap kadar vitamin ini dalam ASI.
ASI eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim. Pemberian ASI secara eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu setidaknya selama 6 bulan, dan setelah 6 bulan bayi mulai diperkenalkan dengan makanan padat. Sedangkan ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau bahkan lebih dari 2 tahun.
Para ahli menemukan bahwa mamfaat ASI akan sangat meningkat bila bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. peningkatan ini sesuai dengan pemberian ASI ekslusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. 
1.      Manfaat ASI
Pemberian ASI tidak hanya bermanfaat bagi bayi tetapi juga bagi ibu yang menyusui.
Ø  Manfaat ASI bagi bayi:
1.      ASI merupakan sumber gizi sempurna
ASI mengandung zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi.faktor pembentukan sel-sel otak terutama DHA dalam kadar tinggi. ASI juga mengandung whey (protein utama dari susu yang berbentuk cair) lebih banyak dari casein (protein utama dari susu yang berbentuk gumpalan).komposisi ini menyebabkan ASI mudah diserap oleh bayi (Rulina, 2007).
2.      ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi
Bayi sudah dibekali immunoglobulin (zat kekebalan tubuh) yang didapat dari ibunya melalui plasenta. Tapi, segera setelah bayi lahir kadar zat ini akan turun cepat sekali. Tubuh bayi baru memproduksi immunoglobulin dalam jumlah yang cukup pada usia 3 - 4 bulan. Saat kadar immunoglubolin bawaan menurun, sementara produksi sendiri belum mencukupi, bisa muncul kesenjangan immunoglobulin pada bayi. Di sinilah ASI berperan bisa menghilangkan atau setidaknya mengurangi kesenjangan yang mungkin timbul. ASI mengandung zat kekebalan tubuh yang mampu melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, dan jamur. Colostrum (cairan pertama yang mendahului ASI) mengandung zat immunoglobulin 10 - 17 kali lebih banyak dari ASI (Cahyadi, 2007).
3.      ASI eklusif meningkatkan kecerdasan dan kemandirian anak
Fakta-fakta ilmiah membuktikan, bayi dapat tumbuh lebih sehat dan cerdas bila diberi air susu ibu (ASI) secara eksklusif pada 4 - 6 bulan pertama kehidupannya. Di dalam ASI terdapat beberapa nutrien untuk pertumbuhan otak bayi di antaranya taurin, yaitu suatu bentuk zat putih telur khusus, laktosa atau hidrat arang utama dari ASI, dan asam lemak ikatan panjang - antara lain DHA dan AA yang merupakan asam lemak utama dari ASI.

Ø  Manfaat menyusui bagi ibu:
1.      Mengurangi resiko kanker payudara
Menyusui setidaknya sampai 6 bulan mengurangi kemungkinan ibu menderita kanker payudara, kanker rahim, kanker indung telur. Perlindungan terhadap kanker payudara sesuai dengan lama pemberian ASI. Ibu yang menyusui akan terhindar dari kanker payudara sebanyak 20%-30%. Berdasarkan penelitian dari 30 negara pada 50.000 ibu menyusui dan 97.000 tidak menyusui kemungkinan kejadian kanker payudara lebih rendah pada ibu menyusui. Jika menyusui lebih dari 2 tahun ibu akan lebih jarang menderita kanker payudara sebanyak 50% (Roesli, 2007).
2.      Metode KB paling aman
Menyusui eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif, selama klien belum mendapat haid dan waktunya kurang dari enam bulan pasca persalinan. Efektifnya dapat mencapai 98%. Pada wanita pospartum konsentrasi esterogen, progesteron, dan prolaktin (PRL) yang tinggi selama kehamilan turun secara drastis. Tanpa menyusui, kadar gonadotropin meningkat pesat, konsentrasi PRL kembali ke normal dalam waktu sekitar 4 minggu dan pada minggu ke-8 pascapartum. Sebaliknya, pada wanita yang menyususi, konsentrasi PRL tetap meninggi selama pengisapan sering terjadi dan pada setiap kali menyusui terjadi peningkatan sekresi PRL secara akut. Walaupun konsentrasi Follicle Stimulating Hormone (FSH) kembali ke normal dalam beberapa minggu pascapartum, namun konsentrasi Luteinizing Hormone (LH) dalam darah tetap tertekan sepanjang periode menyusui.
3.      Kepraktisan dalam pemberian ASI
ASI dapat segera diberikan pada bayi, segar, siap pakai dan mudah pemberiannya sehingga tidak terlalu merepotkan ibu.
4.      Ekonomis
Dengan memberikan ASI, ibu tidak memerlukan untuk makanan bayi sampai berumur 4-6 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya.

2.      Program Pemberian Asi Eksklusif
Pentingnya pemberian ASI eksklusif mendapat perhatian dunia secara khusus sejak 1990. Hal ini ditandai dengan adanya deklarasi yang dikenal dengan Deklarasi innocenti (innocenti Declaration) dari WHO-UNICEF. Deklarasi yang dilahirkan di Innocenti Italia tahun 1990 ini bertujuan untuk melindungi, mempromosikan dan memberi dukungan pada pemberian ASI. Deklarasi yang juga ditandatangani Indonesia ini memuat hal-hal berikut.
"Sebagai tujuan global untuk meningkatkan kesehatan dan mutu makanan bayi secara optimal maka semua ibu dapat memberikan ASI eksklusif dan semua bayi diberi ASI eksklusif sejah lahir sampai berusia 4-6 bulan. Setelah berumur 4-6 bulan, bayi diberi makanan pendamping/padat yang benar dan tepat. Sedangkan ASI tetap diteruskan sampai usia 2 tahun atau lebih. Pemberian makanan untuk bayi ideal seperti ini dapat dicapai dengan cara menciptakan pengertian serta dukungan dari lingkungan sehingga ibu-ibu dapat menyusui secara eksklusif".
Pada tahun 1999, setelah pengalaman selama 9 tahun, UNICEF memberikan klarifikasi tentang rekomendasi jangka waktu pemberian ASI eksklusif. Rekomendasi terbaru UNICEF bersama World Health Assembly (WHA) dan banyak negara lainnya adalah menetapkan jangka waktu pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Terlepas dari isi rekomendasi baru UNICEF tadi, masih ada pihak yang tetap mengusulkan pemberian makanan padat sesuai dengan isi deklarasi Innocenti (1990) yaitu "hanya diberi ASI sampai bayi berusia 4-6 bulan". Namun, pengetahuan terahir tentang efek negatif pemberian makanan pada yang terlalu dini telah cukup menunjang pembaharuan definisi ASI ekslusif menjadi "ASI saja sampai usia sekitar 6 bulan".
Di Indonesia sendiri, telah dikeluarkan undang-undang mengenai pemberian ASI eksklusif, yakni Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Dalam UU kesehatan baru ini, hak bayi untuk mendapat ASI eksklusif dijelaskan dalam Pasal 128 Ayat 1 yang berbunyi, Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis. Dengan adanya UU ini, jelas sudah bahwa seorang anak yang baru dilahirkan dalam kondisi normal (tidak memerlukan tindakan penanganan khusus) berhak mendapatkan ASI secara eksklusif. Lebih lanjut di ayat selanjutnya ditegaskan lagi bahwa selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.
3.      Kendala Dalam Pemberian Asi Eksklusif
Pemberian ASI eksklusif tidak sesederhana yang dibayangkan. Banyak kendala yang timbul dalam upaya memberikan ASI eksklusif. Berikut adalah beberapa kendala pemberian ASI eksklusif.
a.      Produksi Asi Kurang
Ibu tidak memberikan ASI eksklusif dengan alasan produksi ASI kurang. Namun pada kenyataannya, ternyata hal ini pada umumnya lebih bersifat psikologis (emotional factor), yakni ibu merasa produksi ASI kurang, padahal sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan bayi. Untuk itu, factor penyebab ASI berkurang perlu diidentifikasi, yaitu:
1)      Faktor Menyusui
Hal-hal yang dapat mengurangi produksi ASI adalah:
-          Tidak melakukan inisiasi menyusu dini. Inisiasi menyusu dini adalah meletakkan bayi di atas dada iatau perut ibu segera setelah dilahirkan dan membiarkan bayi mencari puting ibu kemudian menghisapnya setidaknya satu jam setengah kelahiran. Cara bayi melakukan inisiasi menyusu dini disebut sebagai baby crawl.
-          Menjadwal pemberian ASI. Ibu sebaiknya tidak menjadwalkan pemberian ASI. Menyusui paling baik dilakukan sesuai permintaan bayi (on demand) termasuk pada malam hari, minimal 8 kali per hari. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seringnya bayi menyusu. Makin jarang bayi disusui biasanya produksi ASI akan berkurang.
-          Memberikan minuman prelaktal (bayi diberi minum sebelum ASI keluar), apalagi memberikannya dengan botol/dot,
-          Kesalahan pada posisi dan perlekatan bayi pada saat menyusu,
-          Tidak mengosongkan salah satu payudara saat menyusui. Produksi ASI juga dapat berkurang bila bayi menyusu terlalu sebentar. Pada minggu pertama kelahiran seringkali bayi mudah tertidur saat menyusu. Ibu sebaiknya  merangsang bayi supaya tetap menyusu dengan cara menyentuh telinga/telapak kaki bayi agar bayi tetap mengisap.
2)      Faktor Psikologis Ibu
Persiapan psikologis ibu sangat menentukan keberhasilan menyusui. Ibu yang tidak mempunyai keyakinan mampu memproduksi ASI umumnya akhirnya memang produksi ASI nya berkurang. Stres, khawatir, ketidakbahagiaan ibu pada periode menyusui sangat berperan dalam mensukseskan pemberian ASI eksklusif. Peran keluarga dalam meningkatkan percaya diri ibu sangat besar.
3)      Faktor Fisik Ibu
Faktor fisik ibu seperti ibu sakit, lelah, ibu yang menggunakan pil kontrasepsi atau alat kontrasepsi lain yang mengandung hormon, ibu menyusui yang hamil lagi, peminum alkohol, perokok, atau ibu dengan kelainan anatomis payudara dapat mengurangi produksi ASI.
Khusus untuk ibu menyusui yang sedang sakit, hanya sebagian kecil yang tidak boleh menyusui. Ibu yang sedang mengkonsumsi obat anti kanker atau mendapat  penyinaran zat radioaktif tidak diperkenankan untuk menyusui. Sedangkan, ibu penderita infeksi HIV memerlukan pendekatan khusus.
Bila ibu dirawat di rumah sakit, rawatlah bersama bayinya sehingga dapat tetap menyusui. Bila ibu merasa tidak mampu untuk menyusui anjurkan untuk memerah ASI setiap 3 jam dan memberikan ASI perah tersebut dengan cangkir kepada bayinya.
Bila keadaan memungkinkan atau ibu mulai sembuh dianjurkan untuk menyusui kembali dan bila perlu dilakukan proses relaktasi. Ibu harus diyakinkan bahwa obat yang diberikan oleh dokter tidak membahayakan bila menyusui. Obat yang diminum oleh ibu hanya sebagian kecil yang masuk ke dalam ASI (kurang dari 1%). Begitu pula sangat sedikit laporan tentang efek samping obat yang diminum oleh ibu selama proses laktasi. Walaupun demikian beberapa obat pernah dilaporkan memberikan efek samping, antara lain: obat psikiatri, obat anti kejang, beberapa golongan antibiotika, sulfonamid, estrogen (pil anti hamil), dan golongan diuretika.
4)      Faktor Bayi
Ada beberapa faktor kendala yang bersumber pada bayi, misalnya bayi sakit, prematur, dan bayi dengan kelainan bawaan.
b.      Ibu Kurang Memahami Tata Laksana Laktasi Yang Benar
Ibu sering kurang memahami tata laksana laktasi yang benar, misalnya pentingnya memberikan ASI, bagaimana ASI keluar (fisiologi menyusui), bagaimana posisi menyusui dan perlekatan yang baik sehingga bayi dapat menghisap secara efektif dan ASI dapat keluar dengan optimal, termasuk  cara memberikan ASI bila ibu harus berpisah dari bayinya.
Bila bayi terpisah dengan ibu untuk sementara waktu, ibu memerah ASInya dan diberikan kepada bayinya dengan sendok atau cangkir. Sebaiknya tidak menggunakan dot karena akan mempersulit bayi bila kembali menyusu (bingung puting). Untuk mengurangi kemungkinan ibu belum memahami tata laksana laktasi yang benar, pada saat usia kehamilan lebih dari 32 minggu ibu perlu melakukan konsultasi ke klinik laktasi untuk melakukan persiapan pemberian ASI eksklusif.

c.       Ibu Ingin Melakukan Relaktasi
Relaktasi merupakan suatu keadaan ibu yang telah berhenti menyusui ingin memulai menyusui kembali. Biasanya setelah tidak menyusu beberapa lama, produksi ASI akan berkurang, dan bayi akan malas menyusu dari ibunya apalagi jika ia sudah diberikan minuman melalui botol. Untuk mengembalikan agar bayi dapat menyusu dari ibu kembali, kita dapat menggunakan alat yang disebut ‘suplementer’.
Suplementer menyusui adalah alat yang digunakan sebagai suplemen kepada bayi saat bayi menyusu pada payudara yang kurang memproduksi ASI. Jenis suplementer yang tersedia, antara lain cangkir dan slang plastik atau breast feeding supplementer. Dengan menggunakan suplementer bayi tidak marah karena mendapatkan susu dari selang dan payudara ibu akan terangsang kembali untuk memproduksi ASI.
Produksi ASI dapat bertambah bergantung dari motivasi ibu dan keinginan bayi untuk menyusu kembali. Bila produksi ASI sudah mencukupi, suplementer tidak perlu digunakan lagi. Makin lama tidak menyusui, makin lama diperlukan penggunaan suplementer.
d.      Bayi Sudah Terlanjur Mendapat Prelakteal Feeding
Seringkali sebelum ASI keluar bayi sudah diberikan air putih, air gula, air madu, atau susu formula dengan dot. Hal ini tidak diperbolehkan karena selain akan menyebabkan bayi malas menyusu, bahan tersebut mungkin menyebabkan reaksi intoleransi atau alergi.
e.       Kelainan Ibu
Kelainan ibu yang sering dijumpai adalah puting lecet, puting datar, puting luka, payudara bengkak, mastitis dan abses. Puting lecet / puting luka merupakan salah satu kendala dalam proses menyusui. Penyebab yang paling utama dari puting lecet ini adalah perlekatan yang kurang baik. Bila bayi tidak melekat dengan baik, bayi akan menarik puting, menggigit dan menggesek kulit payudara, sehingga menimbulkan rasa sangat nyeri dan bila bayi terus menyusu akan merusak kulit puting dan menimbulkan luka ataupun retak pada puting. Cara mengatasi hal ini adalah dengan memperhatikan posisi bayi saat menyusu dan pelekatannya. Puting yang retak, luka juga dapat disertai jamur (Kandidiasis). Mulut bayi sebaiknya dilihat apakah terdapat jamur yang dapat mengganggu proses menyusu atau adakah ikatan dibawah lidah yang membuat lidah tidak dapat menjulur keluar (tongue tie).
Pengobatan yang sesuai baik untuk ibu maupun bayi harus segera diberikan. Membangkitkan rasa percaya diri ibu sangat diperlukan. Membangkitkan rasa percaya diri ibu dan penjelasan bahwa kelainan hanya bersifat sementara akan membantu ibu melanjutkan untuk menyusui bayi. Posisikan bayi agar mulutnya melekat dengan baik sehingga rasa nyeri akan segera berkurang. Tidak perlu mengistirahatkan payudara, tetapi tetaplah menyusu on demand.
Bila diperlukan, bantu ibu untuk memerah ASI, dan ASI perah diberikan dengan cangkir. Pengobatan dengan antibiotik atau anti jamur  dapat diberikan bila memang diperlukan, seringkali dengan mengoleskan ASI yang diperah luka dapat sembuh. Membersihkan payudara hanya pada waktu mandi, hindari penggunaan sabun, lotion , salep, atau menggosok-gosok dengan handuk.
Ibu sering datang ke Klinik Laktasi karena payudaranya bengkak, penuh dan terasa nyeri. Biasanya terjadi pada minggu-minggu pertama setelah bayi lahir dimana proses menyusu masih belum mantap. Payudara penuh berbeda dengan payudara bengkak.
Payudara penuh terjadi beberapa hari setelah persalinan, yaitu saat ASI sudah mulai diproduksi, payudara terasa nyeri berat, keras, tapi ASI masih dapat mengalir keluar, dan ibu tidak merasa demam. Payudara penuh adalah suatu hal yang normal. Sedangkan payudara bengkak (engorgement) berarti payudara tampak merah, mengkilat, dan sangat nyeri, terjadi karena bendungan pada pembuluh darah dan limfe, sekresi ASI sudah mulai banyak, dan ASI tidak dikeluarkan sempurna. Payudara bengkak dapat dicegah dengan menyusukan bayi segera setelah lahir, menyusukan bayi tanpa jadwal, dan jangan memberi minuman lain pada bayi. Lakukan masase dan keluarkan ASI.
Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah payudara bengkak adalah segera menyusui setelah bayi lahir. Inisiasi dini sangat membantu bayi/ibu dapat melakukan proses menyusui selanjutnya. Pastikan bayi melekat dengan baik di payudara. Menganjurkan ibu untuk menyusui on demand (sesuka bayi). Bila bayi dapat menghisap susuilah bayi sesering mungkin, jangan mengistirahatkan payudara. Namun bila bayi tak dapat menghisap, bantu ibu untuk memerah ASI dan berikan ASI dengan cangkir.
Mastitis merupakan reaksi reaksi peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak. Abses payudara merupakan suatu komplikasi dari mastitis berupa kumpulan nanah yang terlokalisir diantara jaringan payudara. Mastitis memperlihatkan gejala klinis payudara nampak merah, bengkak keras, terasa panas dan nyeri sekali. Dapat mengenai kedua atau hanya satu payudara. Penyebabnya antara lain puting lecet atau saluran ASI tersumbat yang tidak ditatalaksana dengan baik. Mastitis dapat di tatalaksana dengan mengistirahatkan ibu, ASI tetap harus dikeluarkan, berikan antibiotik dan kompres/minum obat pengurang rasa sakit Abses memperlihatkan gejala klinis berupa benjolan kemerahan, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri. Pada benjolan teraba fluktuasi dan suhu tubuh meningkat. Bila dijumpai keadaan ini, ibu harus istirahat, ASI tetap dikeluarkan, berikan antibiotik, insisi abses, dan kompres / minum obat pengurang rasa sakit
f.       Ibu Hamil Saat Masih Menyusui
Menyusui eksklusif adalah salah satu cara kontrasepsi, sehingga biasanya ibu jarang hamil lagi selama menyusui. Akan tetapi seandainya ibu hamil lagi saat masih menyusui, maka hal yang harus dilakukan adalah terus menyusui bila bayi belum berusia 6 bulan karena ASI masih merupakan makanan tunggal. Begitupun bila bayi berusia 6-12 bulan, karena ASI masih merupakan makanan utama. Sedangkan bila bayi sudah berusia lebih dari 12 bulan, boleh disapih.
g.      Ibu Bekerja
Ibu bekerja bukan merupakan alasan untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif. Ibu yang ingin kembali bekerja diharapkan menyiapkan cara memberikan ASI bila bayi harus ditinggal, misalnya dengan belatih memerah ASI. ASI yang diperah dapat dibekukan dan disimpan sebagai persediaan bila ibu bekerja, menyusui bayi sebelum beragkat kerja, dan hindari pemberian dot.
h.      Kelainan Bayi
Bayi yang menderita sakit atau dengan kelainan kongenital mungkin akan mengganggu proses menyusu. Kelainan ini perlu ditatalaksana dengan benar agar keadaan tersebut tidak menjadi penghambat dalam proses menyusui.
4.      Kondisi Pemberian ASI Eksklusif Di Indonesia
Tingkat pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif di Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, baru 15,3% bayi yang mendapat ASI ekslusif hingga enam bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI eksklusif kurang dari dua bulan.
Kesadaran masyarakat dalam pemberian ASI ekslusif yang masih rendah menjadi salah satu alasan masih sangat sedikitnya bayi yang mendapat ASI ekslusif itu. Masalah itu juga diperparah dengan gencarnya promosi susu formula dan kurangnya dukungan dari masyarakat termasuk institusi yang mempekerjakan perempuan yang belum memberikan tempat dan kesempatan bagi ibu untuk menyusui di tempat kerja.Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) ASI yang sedang disusun, pemerintah akan mengatur mengenai promosi atau iklan dari susu formula termasuk melarang petugas kesehatan bekerjasama dengan produsen susu.
 
XI.             RUMAH SAKIT SAYANG IBU DAN BAYI (RSSIB)
1.      Defenisi
Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi adalah Rumah Sakit yang memberikan pelayanan kesehatan kepada Ibu dan Bayi , dimana sistem pelayanannya mendukung upaya peningkatan harmonisasi dan sinergi dalam mewujukan pelayanan profesional ibu dan bayi menuju tingkat yang mampu mewujudkan perlindungan Ibu dan Bayi sebagai basic mewujukan generasi Indonesia yang berkualitas.

2.      Tujuan RSSIB
Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan Ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna, dengan tujuan akhir menurunkan angka kematian Ibu dan Bayi, lebih khusus dijabarkan sebagai berikut :
·         Mengembangkan standard perlindungan Ibu dan Bayi secara terpadu paripurna.
Meningkatkan kesiapan baik manajemen dan petugas kesehatan melaksana kan PONEK 24 jam.
·         Membina puskesmas jejaring (PONED).
·         Mempromosikan secara maksimal IMD (Inisiasi Menyusu Dini), PMK (Perawatan Metode Kanguru) pada BBLR, ASI eksklusif.
·         Mengembangkan layanan lain yang mendukung perlindungan kesehatan Ibu dan Bayi.
·         Membina kerjasama lintas sektor dan menjalin kerjasama dengan kelompok pendukung ASI.

3.      Sasaran RSSIB
·         Tim Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi sebagai pengemban tugas untuk melakukan pembinaan.
·         Petugas kesehatan baik dari RSD Mardi Waluyo, Puskesmas, Dinas maupun Rumah Sakit lain dalam satu ruang lingkup rujukan.
·         Penentu kebijakan termasuk para pengambil keputusan dan administrasi dari eksekutif dan legislatif.
·         Para Kader kesehatan, posyandu PKK, dan lain-lain kelompok pendukung ASI.
·         Penderita dan keluarganya.
·         Masyarakat umum
4.      Kriteria RSSIB
·         Sarana Pelayanan Kesehatan mempunyai kebijakan Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu tertulis yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas.
·         Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan keterampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut.
·         Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan, masa bayi lahir sampai umur 2 tahun, termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui.
·         Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan, yang dilakukan di ruang bersalin. Apabila ibu mendapat operasi sesar, bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar.
·         Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis.
·         Tidak memberikan makanan atau minuman apa pun selain ASI kepada bayi baru lahir.
·         Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari.
·         Membantu ibu menyusui semau bayi tanpa pembatasan lama dan frekuensi menyusui.
·         Tidak memberikan dot atau empeng kepada bayi yang diberi ASI.
·         Mengupayakan terbentuknya kelompok pendukung ASI dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari rumah sakit/rumah bersalin atau sarana pelayanan kesehatan.
XII.          PONED/PONEK
PONED merupakan kepanjangan dari Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar. PONED dilakukan di Puskesmas induk dengan pengawasan dokter. Petugas kesehatan yang boleh memberikan PONED yaitu dokter, bidan, perawat dan tim PONED Puskesmas beserta penanggung jawab terlatih.
Pelayanan Obsterik dan Neonatal Emergensi Dasar, meliputi kemampuan untuk menangani dan merujuk :
·         Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia, eklampsia)
·         Tindakan pertolongan Distosia Bahu dan Ekstraksi Vakum pada Pertolongan Persalinan
·         Perdarahan post partum
·         infeksi nifas
·         BBLR dan Hipotermi, Hipoglekimia, Ikterus, Hiperbilirubinemia, masalah pemberian minum pada bayi
·         Asfiksia pada bayi
·         Gangguan nafas pada bayi
·         Kejang pada bayi baru lahir
·         Infeksi neonatal
·         Persiapan umum sebelum tindakan kedaruratan Obstetri – Neonatal antara lain Standar Kewaspadaan Universal.
Dalam PONED bidan boleh memberikan :

·         Injeksi antibiotika
·         Injeksi uterotonika
·         Injeksi sedative
·         Plasenta manual
·         Ekstraksi vacuum
·         Indikator kelangsungan dari PUSKESMAS PONED adalah :
·         Kebijakan tingkat PUSKESMAS
·         SOP (Sarana Obat Peralatan)
·         Kerjasama RS PONED
·         Dukungan Diskes
·         Kerjasama SpOG
·         Kerjasama bidan desa
·         Kerjasama Puskesmas Non PONED
·         Pembinaan AMP
·         Jarak Puskesmas PONED dengan RS
Petugas kesehatan yang boleh memberikan PONED:
§  Dokter
§  Bidan
§  Perawat
§  Tim PONED Puskesmas beserta penanggung jawab terlatih
Pelayanan Obstetri dan neonatal emergensi dasar puskesmas dan puskesmas perawatan. Bagian ini memberikan gambaran kebutuhan administrasi, staf, rancang bangun dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan pelayanan kegawatdaruratan dipuskesmas dengan perawatan.
PONEK merupakan kepanjangan dari Pelayanan Obstetri Neonatus Essesnsial Komprehensif. Pelayanan ini dilakukan di rumah sakit yang mempunyai fasilitas yang memadai.
Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif dilaksanakan di rumah sakit dengan kemampuan untuk memberikan pelayanan 24 jam. Kesiapan sarana rumah sakit meliputi ruang kebidanan dengan fasilitas gawat darurat untuk memberikan pelayanan terhadap kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal, neonatal risiko tinggi, pelayanan transfusi darah, tindakan operasi seksio sesaria. Rumah sakit PONEK menerima rujukan dari puskesmas PONED apabila terdapat kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal yang memerlukan penanganan seksio sesarea dan pemberian transfusi darah.
Upaya Pelayanan PONEK :
1. Stabilisasi di UGD dan persiapan untuk pengobatan definitif
2. Penanganan kasus gawat darurat oleh tim PONEK RS di ruang tindakan
3. Penanganan operatif cepat dan tepat meliputi laparotomi, dan sektio saesaria
4. Perawatan intensif ibu dan bayi.
5. Pelayanan Asuhan Ante Natal Risiko Tinggi
PONEK dan PONED diadakan bertujuan untuk menghindari rujukan yang lebih dari 2 jam dan untuk memutuskan mata rantai rujukan itu sendiri.
Hambatan dan kendala dalam penyelenggaraan PONED dan PONEK yaitu Mutu SDM yang rendah, Sarana prasarana yang kurang, Ketrampilan yang kurang, Koordinasi antara Puskesmas PONED dan RS PONEK dengan Puskesmas Non PONED belum maksimal, Kebijakan yang kontradiktif (UU Praktek Kedokteran), Pembinaan terhadap pelayanan emergensi neonatal belum memadai.

REFERENSI

Admin. 2009. Suami Siaga. Sumber: http://duniagtm.blogspot.com/2009/05/suami-siaga.html, diakses pada tanggal 29 November 2011.
Anonim. 2010. Breast Feeding Baby. Sumber: http://nbci.ca:breastfeeding-the-premature-baby-, diakses pada tanggal 27 November 2011.
Anonim.  2010. Safe Motherhood. Sumber: http://obstetriginekologi.com/safe-motherhood, diakses pada tanggal 28 November 2011.
Anonim. 2011. Antenatal Care. Sumber : http://wwwblogkesehatan.blogspot.com. Diakses pada tanggal 27 November 2011.
Admin. 2011. Apa itu GSI ?. Sumber: http://bpmkotabandaaceh.wordpress.com/2011/10/17/apa-itu-gsi/, diakses pada tanggal 28 November 2011.
Anonim. 2011. Kangaroo Program. Sumber: http://jualbatiktulis.wordpress.com, diakses pada tanggal 27 November 2011.
Julia, Fanny. 2009. Kangaroo Mother Care. Sumber: http://www.scribd.com/, diakses pada tanggal 28 November 2011.
Lia. 2009. Making Pregnancy Safer. Sumber: http://bidanlia.blogspot.com/2009/05/making-pregnancy-safer-mps.html, diakses pada tanggal 29 November 2011.
Rusli. 2004. MDGs Indonesia. Sumber: http://www.undp.or.id, diakses pada tanggal 29 November 2011.
Sandi, Faradilla. 2009. Inisiasi Menyusui Dini. Sumber: http://www.scribd.com, diakses pada tanggal 28 November 2011.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar